BANDUNG, ALIANSIBERITA.ID – Langkah Persib Bandung di ajang AFC Champions League Two (ACL 2) 2025/26 tengah berada di ujung tanduk.
Kekalahan telak 0-3 dari Ratchaburi FC pada leg pertama babak 16 besar memaksa Maung Bandung bekerja ekstra keras saat menjamu wakil Thailand tersebut di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Rabu (18/2/2026).
Meskipun harus mengejar defisit tiga gol, bek tengah Persib asal Italia, Federico Barba menegaskan bahwa peluang lolos ke babak berikutnya masih terbuka lebar. Dia meyakini atmosfer GBLA akan menjadi faktor pembeda yang krusial.
Keangkeran GBLA Jadi Senjata Utama
Optimisme Barba didasarkan pada catatan impresif Persib musim ini. Di kompetisi domestik BRI Super League 2025/26, Pangeran Biru menyapu bersih semua laga kandang dengan kemenangan 100 persen. Rekor inilah yang ingin dibawa Barba ke panggung Asia.
“Kami beruntung karena masih memiliki satu pertandingan lagi di kandang. Kami sangat kuat di sana. Kami pulang membawa mentalitas bahwa dalam sepak bola, semua masih bisa terjadi,” ungkap Barba menukil ileague.id, Jumat (13/2/2026).
Evaluasi Kesalahan Fatal di Leg Pertama
Mengulas kekalahan di Thailand, Barba mengakui adanya penurunan fokus yang berujung fatal.
Dua gol cepat dari Pedro Tana dan Gabriel Mutombo di awal masing-masing babak menjadi bukti bahwa skuat asuhan Bojan Hodak sempat kehilangan kendali permainan.
“Kami memiliki peluang, tapi ini soal kualitas di lapangan. Saya pikir kami melakukan cukup banyak kesalahan yang seharusnya tidak boleh terjadi dalam pertandingan level Asia seperti ini,” tambahnya.
Minta Dukungan Penuh Bobotoh
Bagi Barba, dukungan masif dari suporter di tribun GBLA bukan sekadar hiasan, melainkan mesin penggerak mentalitas pemain.
Dia yakin kehadiran Bobotoh mampu merusak konsentrasi pemain Ratchaburi FC sejak peluit kick-off dibunyikan.
“Pertandingan kandang itu akan berbeda. Kami tahu kekuatan kami di kandang sendiri dan kami akan melakukannya dengan sangat baik. Kami percaya bisa membalikkan keadaan,” pungkas eks pemain Serie A tersebut.
Misi “Remontada” atau membalikkan keadaan ini menjadi tantangan besar bagi Bojan Hodak untuk membuktikan bahwa Persib bukan hanya jago kandang di liga lokal, tapi juga kompetitif di kancah internasional.



