27.8 C
Surabaya
21 June 2026
spot_img

Dari Nankai University, Menkeu Purbaya Beberkan Kekuatan Ekonomi Indonesia saat Ini

TIANJIN, inventori.co.id – Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, memanfaatkan forum akademik di Nankai University, Tianjin, Tiongkok, untuk memaparkan kondisi terkini ekonomi Indonesia yang dinilainya tetap kuat di tengah berbagai tantangan global.

Dalam kuliah umum yang dihadiri Presiden Nankai University Chen Yulu, Wakil Presiden Eksekutif Chen Jun, Wakil Presiden Sheng Bin, Profesor Xingmin Li, serta ratusan mahasiswa dan akademisi, Purbaya menyoroti sejumlah indikator yang menunjukkan ketahanan ekonomi nasional masih terjaga dengan baik.

Menurutnya, kekuatan ekonomi Indonesia saat ini ditopang oleh pengelolaan fiskal yang disiplin dan hati-hati. Salah satu indikatornya adalah defisit anggaran yang terus dijaga di bawah batas 3 persen sebagaimana diamanatkan dalam peraturan perundang-undangan.

“Adalah kehormatan besar bagi saya untuk berada di Nankai University. Hari ini, dengan sukacita saya membagikan perspektif Indonesia mengenai kebijakan ekonomi, manajemen fiskal, serta pembangunan nasional yang berkelanjutan. Saya berharap dialog ini memperkuat pertukaran akademik, memperdalam pemahaman bersama, dan semakin meningkatkan persahabatan antara Indonesia dan Tiongkok,” ujar Purbaya.

Ekonomi Tumbuh Lebih Tinggi dari Banyak Negara

Purbaya menjelaskan, ketika gejolak pasar global mulai mereda dan sentimen risiko menunjukkan perbaikan, perekonomian Indonesia justru mencatat performa yang semakin solid.

Pada kuartal pertama 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy). Angka tersebut menempatkan Indonesia di atas rata-rata pertumbuhan negara-negara G20 maupun kawasan ASEAN.

Tak hanya itu, stabilitas harga juga tetap terjaga. Hingga Mei 2026, inflasi tercatat sebesar 3,08 persen, sebuah angka yang dinilai menunjukkan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pengendalian harga.

“Indonesia terus tampil menonjol dengan pertumbuhan PDB Kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen yoy, mengungguli banyak negara ekonomi G20 dan ASEAN. Di saat yang sama, kami mempertahankan stabilitas harga dengan inflasi Mei 2026 sebesar 3,08 persen. Perkembangan ini membuktikan bahwa Indonesia memasuki periode ini dengan pertumbuhan yang kuat, inflasi terkendali, dan ketahanan kebijakan yang kredibel,” papar Menkeu Purbaya seperti dilansir dari keterangan resminya, Sabtu (20/6/2026).

Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa di Tianjin University, China. (Foto: Istimewa)

Posisi Indonesia Dinilai Kuat Hadapi Risiko Energi Global

Dalam paparannya, Menkeu juga menyinggung ketahanan Indonesia menghadapi potensi gangguan pasokan energi dunia.

Berdasarkan analisis risiko yang dipaparkannya, Indonesia berada dalam kelompok negara dengan tingkat eksposur rendah dan memiliki bantalan ketahanan yang cukup kuat. Skor ketahanan energi Indonesia mencapai 77 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan Tiongkok yang berada di angka 76 persen dan hanya terpaut tipis dari Afrika Selatan yang mencatat 79 persen.

Menurut Purbaya, capaian tersebut tidak bisa dilepaskan dari bauran kebijakan fiskal yang sehat. Dengan ruang fiskal yang tetap terjaga, APBN memiliki kemampuan untuk menjalankan fungsi sebagai shock absorber atau peredam gejolak ketika terjadi tekanan dari luar negeri.

Surplus Perdagangan Berlanjut, Cadangan Devisa Tetap Tebal

Sejumlah indikator ekonomi lainnya juga menunjukkan tren yang positif.

PMI Manufaktur Indonesia masih berada pada level ekspansif 50,0. Sementara itu, pertumbuhan likuiditas perekonomian (M0) tercatat sebesar 14,8 persen yoy dan pertumbuhan kredit perbankan mencapai 11,5 persen yoy.

Dari sektor eksternal, Indonesia berhasil mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut.

Cadangan devisa nasional juga tetap kuat, mencapai sekitar Rp2.390 triliun yang merupakan konversi dari USD 144,9 miliar. Jumlah tersebut setara dengan 5,6 bulan kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Dampak Ekonomi Mulai Terlihat pada Kesejahteraan Masyarakat

Purbaya menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang dicapai Indonesia tidak hanya terlihat pada indikator makro, tetapi juga mulai tercermin dalam kehidupan masyarakat.

Terciptanya sekitar 1,9 juta lapangan kerja baru berhasil menekan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menjadi 4,68 persen pada 2026.

Di sisi lain, berbagai program perlindungan sosial yang dijalankan pemerintah turut berkontribusi terhadap penurunan angka kemiskinan. Tingkat kemiskinan tercatat turun dari 8,57 persen pada September 2024 menjadi 8,25 persen pada September 2025.

Delapan Prioritas Nasional Jadi Fokus Pemerintah

Selain memaparkan kondisi ekonomi terkini, Menkeu juga menjelaskan arah pembangunan nasional yang saat ini difokuskan pada delapan klaster program prioritas.

“Prioritas tersebut mencakup fondasi ketahanan nasional: kedaulatan pangan, kemandirian energi dan air, pendidikan, kesehatan, serta infrastruktur, perumahan, dan ketangguhan bencana,” jelasnya.

Pemerintah juga terus mendorong transformasi ekonomi melalui hilirisasi dan industrialisasi, penguatan ekonomi kerakyatan, pembangunan pedesaan, hingga pengentasan kemiskinan yang terintegrasi dengan penciptaan lapangan kerja.

Seluruh program tersebut diperkuat melalui dukungan sektor pertahanan dan keamanan, penegakan hukum, tata kelola pemerintahan, digitalisasi, serta diplomasi ekonomi agar pembangunan nasional berjalan lebih inklusif dan berkelanjutan.

“Ini membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya tangguh di tingkat makro, melainkan juga secara nyata bertransformasi menjadi ketersediaan lapangan kerja, penurunan angka kemiskinan, serta kesejahteraan masyarakat yang lebih luas dan merata,” tegas Purbaya menutup pemaparannya.

Related Articles

Komentar Anda

IKUTI KAMI

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles