ALIANSIBERITA.ID, SURABAYA — Para insan pers yang memiliki garis keturunan maupun asal-usul dari Desa Rabasan Kedungdung, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, Madura, kini mulai menghimpun diri.
Melalui gagasan Persatuan Wartawan Rabasan Kedungdung (PWRK) Lintas Nusantara, mereka berupaya merajut kembali tali silaturahmi sekaligus mengukuhkan persatuan sesama pemburu berita.
Langkah ini diinisiasi berkat arahan serta dorongan dari sesepuh Desa Rabasan Kedungdung, Faisol Majid.
Dia memandang perlu adanya ruang temu bagi putra-putri daerah yang saat ini berkarier di berbagai media massa dan tersebar di beragam wilayah Tanah Air.
Pererat Ukhuwah dan Cegah Persaingan Tidak Sehat
Kehadiran PWRK Lintas Nusantara tidak dirancang sekadar tempat berkumpul biasa. Forum ini difokuskan sebagai sarana mempererat ukhuwah Islamiyah, memperkuat kepedulian sosial, serta merawat ikatan kekeluargaan sesama jurnalis.
Wadah baru ini diharapkan menjadi tempat saling bertukar pengalaman, saling menguatkan, dan melengkapi saat menjalankan tugas liputan di lapangan.
Lebih jauh, rasa persaudaraan yang dibangun diyakini mampu membendung potensi gesekan, persaingan tidak sehat, hingga tindakan saling menjatuhkan antar-rekan seprofesi.
Berani Suarakan Kebenaran dengan Tetap Menjaga Etika
Faisol Majid mengingatkan bahwa hubungan kekeluargaan warga Desa Rabasan Kedungdung sangat dekat.
Menurut penjelasannya, hampir 99 persen warga desa memiliki pertalian darah satu sama lain, bahkan kerabat jauh sekalipun masih terikat hubungan keluarga hingga sepupu keempat.
“Ikatan darah dan ikatan iman ini harus senantiasa kita pelihara dengan baik,” kata Faisol Majid saat memberikan pesannya, Senin (24/08/2026).
Dia menegaskan, keberanian dalam menyampaikan fakta kepada publik harus berjalan beriringan dengan kepatuhan terhadap aturan. Prinsip Kode Etik Jurnalistik serta Undang-Undang Pers wajib menjadi pegangan utama setiap wartawan.
“Dalam menjalankan liputan dan menyampaikan informasi kepada masyarakat, saya berpesan, tetaplah tegas dan berani menyuarakan kebenaran. Namun, jangan pernah melanggar batas etika profesi jurnalistik serta ketentuan Undang-Undang Pers yang berlaku,” tegasnya.
Akhlak Mulia di Atas Profesi dan Jabatan
Selain urusan etika liputan, Faisol mengimbau para jurnalis agar tidak meninggikan diri hanya karena profesi atau jabatan yang disandang. Bagi masyarakat, integritas dan akhlak tetap menjadi landasan utama.
“Ingatlah selalu, akhlak mulia jauh lebih tinggi dan lebih mulia nilainya dibandingkan jabatan atau profesi apa pun yang kita sandang,” tuturnya.
Melalui moto “bersatu dalam persaudaraan, profesional dalam pemberitaan, dan teguh dalam etika”, PWRK Lintas Nusantara diharapkan mampu membangun kekompakan yang kian kukuh.
Karya-karya jurnalistik yang dihasilkan para anggotanya pun diharapkan senantiasa jujur, berimbang, santun, bermanfaat, serta mampu membawa nama baik kampung halaman di tengah masyarakat.



