MOSKOW, ALIANSIBERITA.ID – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara terkoordinasi ke wilayah Iran pada Sabtu (28/2/2026) lalu.
Menanggapi eskalasi ini, Pemerintah Rusia melalui Kementerian Luar Negerinya mengecam keras aksi tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan agresi yang tidak beralasan serta terencana.
Moskow memperingatkan bahwa operasi militer ini bukan sekadar konflik regional, melainkan ancaman nyata yang dapat memicu bencana kemanusiaan, krisis ekonomi, hingga katastrofe nuklir global.
Upaya Perubahan Rezim di Teheran
Serangan gabungan Washington dan Jerusalem Barat ini dikonfirmasi langsung oleh Presiden AS Donald Trump.
Dia menyatakan bahwa operasi tersebut ditujukan untuk melumpuhkan program nuklir Iran sekaligus mendorong perubahan rezim. Langkah ekstrem ini diambil setelah pembicaraan nuklir tidak langsung di Jenewa berakhir buntu pada Jumat lalu.
Sebagai respons cepat, Teheran langsung melancarkan serangan balasan yang menargetkan titik-titik vital di Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat yang tersebar di kawasan tersebut.
Ancaman Terhadap Stabilitas Dunia
Kementerian Luar Negeri Rusia mendesak PBB dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk segera memberikan penilaian objektif atas tindakan yang mereka sebut sebagai langkah sembrono.
“Tindakan Washington dan Jerusalem Barat mendorong kawasan ini menuju jurang kehancuran. Ini adalah upaya untuk melenyapkan kepemimpinan negara yang berani melawan tekanan hegemonisme,” tulis pernyataan resmi dari Moskow dikutip dari Russia Today, Minggu (1/3/2026).
Rusia juga menyoroti dampak jangka panjang terhadap keamanan global. Menurut Kremlin, serangan ini akan merusak rezim non-proliferasi senjata nuklir dunia. Negara-negara lain dikhawatirkan akan berlomba-lomba memperkuat persenjataan destruktif demi melindungi diri, yang berujung pada eskalasi tak terkendali di berbagai belahan dunia.
Diplomasi Darurat Kremlin
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dilaporkan telah melakukan pembicaraan telepon darurat dengan Menlu Iran, Abbas Araghchi, guna menawarkan bantuan diplomatik.
Sementara itu, Presiden Vladimir Putin langsung memimpin rapat Dewan Keamanan Nasional untuk membahas langkah taktis Rusia ke depan.
Kecaman global terus mengalir. Tidak hanya dari blok Timur, sekutu Barat seperti Prancis dan Spanyol juga menyuarakan kekhawatiran bahwa serangan ini mempertaruhkan keamanan global.
China pun menuntut penghentian segera seluruh aktivitas militer di wilayah tersebut guna mencegah perang terbuka yang lebih luas.



