WASHINGTON, ALIANSIBERITA.ID – Panggung politik Amerika Serikat kembali membara. Kali ini, anggota Kongres dari Partai Demokrat, Ilhan Omar menjadi pusat perhatian setelah melontarkan pernyataan tajam yang menyeret nama Donald Trump dan skandal mendiang Jeffrey Epstein.
Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari Partai Republik yang menuduhnya telah melampaui batas.
Tudingan ‘Pedofil’ dan Perbandingan dengan Somalia
Ketegangan ini bermula saat Ilhan Omar merespons unggahan video Donald Trump yang mengkritik dugaan jaringan penipuan di Minnesota. Omar, yang merupakan imigran asal Somalia, membalas dengan menuding Trump sedang melakukan pengalihan isu.
Melalui akun media sosialnya, Omar menyebut Trump sebagai pemimpin dari “Partai Perlindungan Pedofil”. Dia merujuk pada munculnya nama Trump dalam dokumen-dokumen terkait Jeffrey Epstein yang baru saja dirilis ke publik.
“Setidaknya di Somalia, mereka mengeksekusi pedofil, bukan memilihnya (sebagai pemimpin),” tulis Omar dalam unggahan yang kini viral tersebut.
Reaksi Keras Partai Republik: “Ini Adalah Kejahatan Federal”
Kalimat “eksekusi” yang dilontarkan Omar langsung disambar oleh kubu Republik. Cabang Partai Republik di Pennsylvania menegaskan bahwa pernyataan tersebut bukan sekadar kritik politik, melainkan ancaman pembunuhan terhadap pejabat federal.
“Menyerukan eksekusi pejabat federal adalah tindak pidana berat di bawah hukum Amerika Serikat,” tegas perwakilan GOP (Partai Republik), seperti dilansir Russia Today, Kamis (12/2/2026).
Mereka mendesak kubu Demokrat untuk segera mengambil tindakan tegas terhadap Omar.
Tak hanya itu, akun RNC Research juga balik menyerang dengan menyentil latar belakang negara asal Omar, menyatakan bahwa Somalia justru memiliki tingkat pernikahan anak tertinggi di dunia.
Fakta di Balik Dokumen Epstein dan Donald Trump
Sebagai konteks, Departemen Kehakiman AS memang telah merilis jutaan dokumen terkait kasus Jeffrey Epstein. Nama Donald Trump disebut ribuan kali dalam ribuan email dan pesan teks tersebut.
Meski dokumen tersebut menunjukkan bahwa Trump memiliki interaksi yang lebih intens dengan Epstein daripada yang diakuinya di masa lalu, hingga saat ini tidak ada bukti kuat (smoking gun) yang menghubungkan Trump secara langsung dengan kejahatan seksual terhadap anak.
Bahkan, beberapa dokumen menunjukkan Trump pernah mendukung kepolisian Florida dalam menindak Epstein. Sementara itu, laporan anonim ke FBI tahun 2020 yang menuduh Trump melakukan pelecehan seksual telah dibatalkan oleh Departemen Kehakiman karena dianggap sebagai upaya sensasional untuk menjatuhkan reputasinya jelang pemilu.



