27 C
Surabaya
12 April 2026
spot_img

Strategi Pemkot Surabaya Garap 5 Proyek Raksasa lewat Skema Pembiayaan Alternatif Rp220 Miliar

SURABAYA, ALIANSIBERITA.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memacu percepatan infrastruktur strategis meski di tengah penyesuaian anggaran.

Melalui skema pembiayaan alternatif, Kota Pahlawan berhasil merealisasikan dana sebesar Rp220,58 miliar dari Bank Jatim untuk mengeksekusi lima proyek vital sepanjang tahun 2025.

Langkah ini diambil sebagai strategi taktis untuk menjaga ritme pembangunan tanpa membebani postur anggaran secara berlebihan. Menariknya, realisasi pinjaman ini justru lebih rendah dari rencana awal sebesar Rp452 miliar, sebuah langkah yang disebut memberikan dampak positif bagi kesehatan fiskal daerah.

Efisiensi Anggaran: Kurangi Beban Bunga, Optimalkan APBD

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Surabaya, Irvan Wahyudrajad mengungkapkan bahwa selisih angka pinjaman tersebut bukan berarti proyek mangkrak.

Sebaliknya, Pemkot memilih mengoptimalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk menutup sebagian kebutuhan.

“Realisasi pinjaman yang lebih kecil ini berdampak pada pengurangan beban kredit atau cicilan. Sebagian proyek kami biayai langsung menggunakan APBD,” ujar Irvan dikutip dari laman Pemkot Surabaya pada Selasa (24/2/2026).

Rincian 5 Proyek Infrastruktur Prioritas

Hingga saat ini, kucuran dana segar tersebut dialokasikan untuk lima sektor utama yang bersentuhan langsung dengan mobilitas dan ekonomi warga:

  1. Jalan Lingkar Luar Barat (JLLB): Realisasi Rp40,08 miliar untuk pengerjaan segmen Simpang Sebidang Romokalisari ke arah selatan (Jalan Raya Sememi) sepanjang 380 meter.
  2. Pelebaran Jalan Wiyung: Realisasi Rp130,22 miliar yang telah menuntaskan pembebasan 34 bidang tanah sepanjang 301,9 meter.
  3. Penerangan Jalan Umum (PJU): Realisasi Rp50,27 miliar untuk pemasangan 6.022 titik lampu di seluruh penjuru kota.
  4. Diversi Gunungsari: Alokasi pagu Rp50,18 miliar (proses berlanjut).
  5. Penanganan Genangan: Alokasi pagu Rp179,27 miliar untuk meminimalisir risiko banjir.

Dampak Ekonomi: Dari Pajak hingga Efisiensi Logistik

Irvan membagi manfaat proyek ini ke dalam dua kategori besar. Secara Intangible, pembangunan JLLB dan Jalan Wiyung diklaim menurunkan Biaya Operasional Kendaraan (BOK) karena kemacetan berkurang dan efisiensi waktu perjalanan meningkat.

Sementara secara Tangible, infrastruktur baru ini menjadi mesin pendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Meningkatnya aksesibilitas akan mendorong kenaikan NJOP lahan. Ini otomatis menaikkan penerimaan PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) serta memperluas basis Pajak PJU,” jelasnya.

Selain itu, koridor Surabaya Barat kini diproyeksikan menjadi magnet investasi baru bagi sektor properti, industri, dan komersial yang diharapkan mampu menyerap tenaga kerja lokal secara masif.

Menatap 2026-2027: Gandeng PT SMI Senilai Rp3,1 Triliun

Estafet pembangunan tidak berhenti di sini. Irvan menegaskan bahwa Pemkot Surabaya telah menyiapkan rencana besar untuk periode 2026-2027 dengan menggandeng PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI).

Total rencana pembiayaan mencapai Rp3,15 triliun, dengan pembagian Rp1,59 triliun untuk tahun 2026, dan Rp1,56 triliun (2027).

Beberapa proyek mercusuar yang masuk dalam daftar tunggu antara lain pembangunan Flyover Dolog senilai Rp125 miliar, kelanjutan JLLB, hingga mega proyek penanganan genangan yang dianggarkan sebesar Rp1,7 triliun.

“Seluruh proses pembayaran kredit atau cicilan ini kami targetkan tuntas pada tahun 2029,” tutup Irvan.

Related Articles

Komentar Anda

IKUTI KAMI

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles