BALI, ALIANSIBERITA.ID — Momen malam takbiran menyambut Idul Fitri 1447 Hijriah di Bali tahun ini menghadirkan situasi yang tidak biasa. Perayaan umat Islam tersebut bertepatan dengan pelaksanaan Hari Suci Nyepi Tahun Caka 1948, yang dijalankan umat Hindu sebagai hari hening total.
Kondisi ini mendorong Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Bali mengambil langkah strategis untuk menjaga keseimbangan antara pelaksanaan ibadah dan keharmonisan sosial di Pulau Dewata.
Melalui sejumlah pertemuan bersama Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Bali, Muhammadiyah dan para tokoh lintas agama menyepakati pendekatan yang mengedepankan toleransi serta saling menghormati antarumat beragama.
Takbiran Tetap Berjalan, dengan Penyesuaian
Dalam kesepakatan tersebut, umat Islam, khususnya warga Muhammadiyah, tetap diperbolehkan melaksanakan takbiran. Namun, pelaksanaannya diatur dengan beberapa penyesuaian penting.
Takbir dianjurkan dilakukan secara sederhana, tanpa penggunaan pengeras suara yang berlebihan. Selain itu, jamaah diimbau berjalan kaki menuju masjid atau mushola terdekat, serta menghindari penggunaan lampu atau penerangan mencolok yang berpotensi mengganggu suasana Nyepi.
“Umat Islam, khususnya warga Muhammadiyah, tetap diperbolehkan untuk melaksanakan takbir, namun dengan beberapa catatan,” sebut Muhammadiyah Bali dalam keterangannya seperti dikutip dari akun media sosial resmi Muhammadiyah pada Rabu (18/3/2026).
“Salah satu catatannya adalah melakukan takbir, serta berjalan kaki menuju masjid/mushola terdekat dan tidak menggunakan pengeras suara, serta penerangan yang terlalu mencolok,” lanjut pernyataan tersebut.
Langkah ini dinilai sebagai bentuk penghormatan terhadap umat Hindu yang menjalankan Catur Brata Penyepian, sekaligus menjaga suasana tetap kondusif.
Sinergi Pengamanan di Tingkat Lokal
Untuk memastikan seluruh rangkaian ibadah berjalan aman dan tertib, berbagai unsur di tingkat lokal dilibatkan secara aktif. Mulai dari prajuru desa adat, pengurus masjid atau mushola, pecalang, linmas, hingga aparat desa dan kelurahan.
Seluruh elemen tersebut diminta berkoordinasi secara sinergis dengan aparat keamanan guna mengantisipasi potensi gangguan serta memastikan dua momentum keagamaan besar ini dapat berjalan berdampingan.
Jadwal Salat Id Mengalami Penyesuaian
Sementara itu, pelaksanaan Salat Idulfitri di Bali yang telah mendapatkan persetujuan dari pemerintah daerah, termasuk gubernur, juga akan mengalami penyesuaian waktu.
Penundaan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya menghormati pelaksanaan Nyepi, sekaligus menjaga stabilitas dan kerukunan masyarakat di Bali.
Momentum langka ini menjadi ujian sekaligus contoh nyata bagaimana toleransi antarumat beragama dapat diwujudkan dalam praktik sehari-hari. Dengan komunikasi dan koordinasi yang baik, perbedaan keyakinan justru menjadi kekuatan untuk mempererat persatuan.



