JAKARTA, ALIANSIBERITA.ID – Sebuah aliansi besar yang terdiri dari puluhan tokoh nasional, aktivis, akademisi, hingga praktisi hukum resmi merapatkan barisan. Pertemuan strategis ini digelar di kawasan Angkasa Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, Selasa (14/4/2026).
Mereka bersepakat untuk mengonsolidasikan kekuatan demi menghidupkan kembali gagasan besar almarhum Try Sutrisno, yakni mengembalikan arah ketatanegaraan Indonesia ke naskah asli UUD 1945.
Momentum ini menjadi wadah penyatuan persepsi bahwa Indonesia saat ini sedang membutuhkan penguatan fondasi dasar dalam bernegara agar tidak terombang-ambing oleh kepentingan politik jangka pendek.
Sinergi Tokoh Nasional dan Amanat Keluarga
Sejumlah nama besar tampak hadir memperkuat aliansi ini, antara lain dr. Zulkifli S. Ekomei, Yudhie Haryono, pengamat ekonomi Ichsanudin Noorsy, hingga politisi Gamari Soetrisno.
Tak ketinggalan, putra kedua almarhum Try Sutrisno, Taufik Dwicahyono (Cheppy), hadir untuk memastikan bahwa semangat perjuangan sang ayah tetap menyala.
“Kami berkumpul dengan satu visi yang sama, yaitu melanjutkan perjuangan Pak Try Sutrisno. Kami memandang pentingnya kembali ke Pancasila dan UUD 1945 naskah asli sebagai solusi atas problematika bangsa saat ini,” tegas dr. Zulkifli S. Ekomei dalam pernyataan tertulisnya, Rabu (15/4/2026).
Menurut Zulkifli, aliansi ini merupakan hasil dari proses panjang sosialisasi di berbagai daerah. Dia meyakini bahwa jika kekuatan ini terorganisir dengan matang, akan muncul kekuatan alternatif yang mampu membawa perubahan nyata bagi arah masa depan Indonesia.
Soroti Dampak Ekonomi Akibat Ketiadaan GBHN
Salah satu poin krusial yang dibahas dalam konsolidasi ini adalah hilangnya kompas pembangunan jangka panjang sejak dihapuskannya Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Hardjuno Wiwoho, Pengamat Hukum dan Pembangunan, memberikan catatan kritis mengenai dampaknya terhadap stabilitas nasional.
“Tanpa GBHN, kebijakan negara menjadi sangat cair dan inkonsisten. Setiap rezim baru membawa agenda sendiri yang seringkali memutus keberlanjutan pembangunan sebelumnya,” ujar Hardjuno.
Lebih jauh, dia menyoroti pemborosan fiskal yang masif. Ribuan triliun anggaran negara dinilai habis untuk program-program yang bersifat elektoral dan jangka pendek.
Aliansi ini mendesak agar tata kelola keuangan negara dikembalikan pada koridor konstitusi yang transparan dan berorientasi pada kemakmuran rakyat secara luas, bukan sekadar kepentingan lima tahunan.
Misi Besar Mengawal Fondasi Negara
Gerakan ini berkomitmen untuk terus menyuarakan gagasan-gagasan fundamental Try Sutrisno, di antaranya:
- Restorasi Konstitusi: Mengembalikan UUD 1945 sebagai pilar utama dengan menempatkan amendemen hanya sebagai adendum.
- Kedaulatan Rakyat Sejati: Menghidupkan kembali peran Utusan Golongan di MPR guna menyeimbangkan dominasi partai politik.
- Arah Pembangunan Pasti: Mengaktifkan kembali haluan negara agar pembangunan nasional memiliki desain besar yang tidak berubah-ubah.
Aliansi ini percaya bahwa dengan kembali ke “kompas” asli bangsa, NKRI akan lebih tangguh dalam menghadapi tantangan global sekaligus memastikan kesejahteraan yang berkeadilan bagi seluruh rakyat.



