NEW YORK, ALIANSIBERITA.ID – Pelatih tim nasional Spanyol, Luis de la Fuente tak mampu menyembunyikan emosinya setelah Spanyol kembali berdiri di puncak sepakbola dunia.
Pelatih 65 tahun itu menyebut skuad yang dibawanya sebagai generasi luar biasa usai membawa La Roja menjuarai Piala Dunia 2026 dengan menundukkan Argentina 1-0 di partai final, Senin (20/7/2026) WIB.
Gol semata wayang Ferran Torres pada menit ke-106 memastikan Spanyol merebut gelar dunia kedua sepanjang sejarah mereka, sekaligus mengakhiri upaya Lionel Messi dan Argentina mempertahankan mahkota juara.
Bermain di New York/New Jersey, Spanyol tampil dominan hampir sepanjang pertandingan. Namun, rapatnya pertahanan Argentina dan penampilan gemilang Emiliano Martinez membuat skor tetap bertahan hingga babak tambahan waktu.
Kebuntuan akhirnya pecah ketika Nico Williams menyambut umpan silang Pedro Porro di tiang jauh sebelum mengarahkan bola ke Ferran Torres. Sang penyerang yang masuk sebagai pemain pengganti langsung melepaskan tembakan pertama yang menghujam atap gawang Argentina.
Torres pun dinobatkan sebagai Player of the Match berkat gol yang mengantar negaranya kembali menjadi kampiun dunia, mengulang pencapaian Spanyol saat menjuarai Piala Dunia 2010.

Luis de la Fuente Puji Karakter Generasi Emas Spanyol
Usai pertandingan, Luis de la Fuente mengaku keberhasilan tersebut bukan hanya soal trofi, melainkan buah dari kebersamaan dan karakter para pemain yang dibangunnya selama bertahun-tahun.
“Saya sangat bangga dengan generasi pemain ini. Mereka tumbuh bersama dengan satu gagasan yang sama, lalu menyempurnakannya. Mereka memberikan contoh tentang arti sebuah tim dan keluarga,” ujar De la Fuente, dikutip dari website resmi FIFA.
Pelatih senior itu juga menyebut seluruh pemainnya memiliki kualitas istimewa dan merasa terhormat bisa menjadi bagian dari perjalanan mereka.
“Bagi saya, sebuah kehormatan bisa mendampingi mereka dalam perjalanan ini. Saya sangat emosional ketika melihat kembali apa yang sudah kami lalui.”
Menurutnya, keberhasilan menyapu berbagai gelar dalam beberapa tahun terakhir menjadi bukti kualitas generasi sepak bola Spanyol saat ini.
“Kami telah memenangkan semuanya dan itu luar biasa. Mereka adalah generasi yang menjadi kebanggaan Spanyol. Bersama, kami selalu lebih kuat,” katanya.

Scaloni Akui Spanyol Lebih Baik
Di kubu seberang, pelatih Argentina Lionel Scaloni menerima kekalahan dengan lapang dada. Ia menilai Spanyol memang tampil lebih baik di laga final, meski tetap bangga terhadap perjuangan anak asuhnya.
“Ada rasa sedih, tetapi kami tahu sudah memberikan segalanya di lapangan. Spanyol memang lebih baik, itulah kenyataannya,” kata Scaloni.
Meski gagal mempertahankan gelar juara dunia, Scaloni menegaskan perjalanan Argentina hingga mencapai final tetap layak diapresiasi.
“Saya akan selalu mengenang apa yang telah dilakukan tim ini untuk bisa sampai sejauh ini. Kami harus memberi nilai besar terhadap pencapaian tersebut karena mencapai final Piala Dunia bukan perkara mudah.”
Pelatih berusia 48 tahun itu juga menilai timnya harus menunjukkan sikap yang sama baik saat menang maupun ketika kalah.
“Kami harus besar dalam kemenangan dan juga besar dalam kekalahan. Hari ini kami menunjukkan bahwa kami tahu bagaimana menerima kekalahan. Kami kalah dan kami mengakuinya, tetapi itu tidak akan menghapus semua yang telah kami capai sebelumnya,” ujarnya.
Dominasi Spanyol Berbuah Sejarah
Sepanjang pertandingan, Spanyol menguasai jalannya laga dan terus menekan pertahanan Argentina. Lamine Yamal sudah mengancam sejak awal pertandingan, disusul peluang Dani Olmo, Mikel Oyarzabal, hingga Marc Cucurella.
Emiliano Martinez menjadi alasan utama Argentina mampu bertahan. Kiper Aston Villa itu berkali-kali melakukan penyelamatan penting, termasuk menggagalkan peluang Ferran Torres, Pau Cubarsi, Pedri, Nico Williams, hingga tendangan bebas Yamal di penghujung waktu normal.
Argentina justru kesulitan mengembangkan permainan. Lionel Messi nyaris tidak memperoleh ruang untuk menunjukkan magisnya, sementara La Albiceleste bahkan gagal melepaskan satu pun tembakan sepanjang waktu normal.
Situasi mereka semakin sulit setelah Enzo Fernandez menerima kartu kuning kedua pada masa injury time babak kedua.
Di babak tambahan waktu, tekanan Spanyol terus berlanjut hingga akhirnya Ferran Torres memecahkan kebuntuan lewat gol penentu kemenangan pada menit ke-106.

Rekor demi Rekor Tercipta
Gelar Piala Dunia 2026 juga menghadirkan sederet catatan bersejarah bagi Spanyol maupun para pemain yang tampil di final.
Spanyol menutup turnamen hanya dengan kebobolan satu gol, menjadi jumlah kebobolan paling sedikit yang pernah dicatat tim juara dalam satu edisi Piala Dunia.
Kiper Unai Simon mencatat tujuh clean sheet sepanjang turnamen, rekor terbanyak dalam sejarah Piala Dunia.
Luis de la Fuente juga resmi menjadi pelatih tertua yang mampu menjuarai Piala Dunia pada usia 65 tahun 28 hari, melampaui rekor Vicente del Bosque saat membawa Spanyol menjadi juara pada 2010.
Lamine Yamal dan Pau Cubarsi, yang sama-sama berusia 19 tahun, ikut mencatat sejarah sebagai remaja keempat dan kelima yang tampil di final Piala Dunia sekaligus keluar sebagai juara, mengikuti jejak Pele, Giuseppe Bergomi, dan Kylian Mbappe.
Keberhasilan ini juga membuat Spanyol menjadi negara pertama yang secara bersamaan menyandang status juara bertahan Piala Dunia putra dan putri, setelah tim perempuan mereka menjuarai Piala Dunia Wanita FIFA 2023.
Di sisi lain, Lionel Messi mencatat rekor sebagai pemain outfield tertua yang tampil di final Piala Dunia pada usia 39 tahun 25 hari. Kapten Argentina itu juga menjadi pemain kedua dalam sejarah yang tampil di tiga final Piala Dunia setelah Cafu.
Kemenangan atas Argentina memperpanjang rekor tak terkalahkan Spanyol dalam waktu normal menjadi 38 pertandingan sejak Maret 2024, sekaligus menjadi rangkaian tanpa kekalahan terpanjang yang pernah dicatat negara Eropa tersebut.



