ALIANSIBERITA.ID, MILAN – Mantan juru taktik AC Milan, Sergio Conceicao melontarkan peringatan terbuka untuk kompatriotnya, Ruben Amorim, yang baru saja menerima mandat menangani Rossoneri.
Conceicao menegaskan bahwa pekerjaan di San Siro jauh dari kata mudah, mengingat atmosfer klub dan ekspektasi suporter yang kerap tidak masuk akal.
Tekanan Tinggi dan Ekspektasi Tak Realistis
Saat menjadi analis tamu di saluran DAZN Portugal, Conceicao menceritakan secara gamblang situasi di internal Milan. Menurutnya, publik kerap lupa dengan realitas prestasi klub dalam dua dekade terakhir.
Dia menitipkan pesan hangat sekaligus peringatan keras untuk Amorim yang siap memulai petualangan barunya di Italia. Lingkungan kerja di San Siro dinilainya punya tingkat tekanan yang sangat masif.
Orang-orang di sana selalu berpikir Milan harus menjuarai Liga Italia dan Liga Champions setiap musim. Padahal, jika dirunut kembali, Milan cuma mampu meraih dua gelar Serie A dalam 20 tahun terakhir. Satu dari sedikit trofi belakangan ini justru lahir saat dia memimpin skuat.
Masalah Utama Bukan di Kursi Pelatih
Pengalaman Conceicao menukangi Milan pada paruh kedua musim 2024/2025 memang tidak berakhir mulus.
Meski mempersembahkan trofi Supercoppa Italiana dan menembus final Coppa Italia dalam waktu singkat, dia gagal membawa klub ke kompetisi Eropa setelah finis di peringkat kedelapan.
Namun, drama yang terjadi setelah kepindahannya makin memperjelas bobrok di tubuh tim. Massimiliano Allegri yang masuk menggantikannya pada musim 2025/2026 juga bernasib tragis.
Kendati tak terpecah fokusnya karena absen di Eropa, Allegri hanya mampu membawa Milan mengakhiri musim di posisi kelima.
Sehari setelah musim 2025/2026 tuntas, manajemen mengambil langkah drastis dengan memecat Allegri bersama jajaran direksi, termasuk Direktur Olahraga Igli Tare, Direktur Teknis Geoffrey Moncada, hingga CEO Giorgio Furlani.
Rentetan pemecatan massal itu menjadi bukti kuat bagi Conceicao bahwa kegagalan Milan selama ini tidak bisa ditimpakan sepenuhnya ke pundak juru taktik.
Dia tidak ingin lepas tangan dari tanggung jawab atas hasil masa lalunya, tetapi fakta bahwa Allegri dan seluruh jajaran manajemen ikut ditendang membuktikan ada masalah yang jauh lebih mendasar di dalam klub.



