31.7 C
Surabaya
4 September 2026
spot_img

Waspada Virus Nipah Masuk Surabaya, Pemkot Terbitkan SE dan Minta Warga Hindari Minum Nira Mentah

SURABAYA, ALIANSIBERITA.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya resmi menetapkan status kewaspadaan dini terhadap ancaman Virus Nipah (NiV). Langkah ini diambil melalui penerbitan Surat Edaran (SE) Nomor 400.7.7.1/3316/436.7.2/2026 sebagai respons cepat atas arahan Kementerian Kesehatan RI untuk memagari wilayah dari potensi transmisi penyakit menular tersebut.

Meski hingga saat ini belum ditemukan kasus konfirmasi pada manusia di Indonesia, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Surabaya, Lilik Arijanto, menegaskan bahwa posisi geografis Indonesia dan tingginya mobilitas antarnegara menjadi faktor risiko yang tidak boleh disepelekan.

“Kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan, mengingat kedekatan geografis dan tingginya mobilitas penduduk dengan negara-negara yang pernah melaporkan kejadian tersebut (India, Bangladesh, Singapura, dan Filipina),” ujar Lilik dikutip dari surabaya.go.id, Selasa (10/2/2026).

Kelelawar Buah Jadi Sorotan

Penelitian menunjukkan bahwa virus yang bersifat zoonosis (menular dari hewan ke manusia) ini secara alami terdapat pada kelelawar buah.

Di Indonesia, keberadaan kelelawar jenis ini sudah teridentifikasi, sehingga risiko penularan tetap ada jika interaksi antara manusia, hewan perantara, dan lingkungan tidak dijaga.

Lilik memaparkan, penularan bisa terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi atau mengonsumsi bahan makanan yang telah terkontaminasi air liur atau urine kelelawar.

Kenali Gejala: Mirip Flu Biasa

Masyarakat diminta tidak meremehkan gangguan kesehatan ringan. Infeksi Virus Nipah memiliki spektrum gejala yang luas, mulai dari:

  • Demam, sakit kepala, dan nyeri otot (myalgia).
  • Lemas, batuk, pilek, serta sakit tenggorokan.
  • Mual, muntah, hingga nyeri perut.
  • Kondisi Berat: Gangguan pernapasan akut hingga penurunan kesadaran (ensefalitis).

“Gejala awal sering kali mirip flu biasa. Jika muncul gejala setelah ada riwayat kontak dengan hewan atau perjalanan ke wilayah endemis, segera periksa ke fasilitas kesehatan,” ujarnya.

Panduan Pencegahan: Stop Minum Nira Mentah!

Dalam SE tersebut, Pemkot Surabaya secara spesifik menyoroti kebiasaan mengonsumsi nira atau air aren. Masyarakat dilarang keras meminum nira mentah langsung dari pohon karena berisiko tinggi terkontaminasi urine kelelawar saat proses penyadapan.

Berikut adalah langkah Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang ditekankan Pemkot:

  1. Masak Nira hingga Matang: Pastikan air aren atau nira mendidih sempurna sebelum dikonsumsi.
  2. Sortir Buah: Cuci bersih dan kupas buah. Jangan mengonsumsi buah yang memiliki bekas gigitan hewan.
  3. Olahan Daging: Masak daging ternak (khususnya babi dan kuda) hingga benar-benar matang.
  4. Proteksi Diri: Gunakan masker jika sakit dan rutin mencuci tangan dengan sabun.
  5. Hindari Pasar Hewan Liar: Batasi aktivitas di area yang berisiko menjadi habitat kelelawar atau perdagangan hewan liar.

Instruksi untuk Camat dan Lurah

Tidak hanya edukasi warga, Pemkot juga memerintahkan seluruh jajaran Camat, Lurah, hingga Ketua RT/RW untuk melakukan pemantauan aktif.

Area perkebunan atau pohon buah yang sering menjadi sarang kelelawar harus diawasi kebersihannya melalui kerja bakti rutin.

“Deteksi dini adalah kunci. Jika ditemukan indikasi kasus, puskesmas dan Dinas Kesehatan akan langsung melakukan pelacakan epidemiologi,” pungkas Lilik.

Related Articles

Komentar Anda

IKUTI KAMI

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles