LONDON, ALIANSIBERITA.ID – Grup musik rock alternatif asal Inggris, Radiohead kembali memicu spekulasi besar di kalangan penggemar musik dunia.
Kelima personelnya dilaporkan baru saja mendaftarkan perusahaan baru bernama Futile Endeavours Limited.
Langkah bisnis ini diyakini bukan sekadar administrasi biasa. Dalam sejarah perjalanan karier Thom Yorke dkk, pembentukan entitas hukum baru sering kali menjadi “kode keras” bahwa band ini sedang mempersiapkan proyek besar, baik itu album studio baru maupun rangkaian tur konser.
Rekam Jejak ‘Kode’ Bisnis Radiohead
Berdasarkan data yang dihimpun aliansiberita.id, Radiohead memiliki pola unik sebelum merilis karya monumental. Berikut adalah beberapa buktinya:
- Dawn Chorus LLP (2016): Muncul sesaat sebelum peluncuran album A Moon Shaped Pool.
- Spin With A Grin LLP (2021): Terbentuk tepat sebelum pengumuman rilis ulang (reissue) album ikonik Kid A Mnesia.
- Self Help Tapes LLP (2022): Didaftarkan sebelum mereka mengumumkan proyek sampingan The Smile.
Kini, dengan terdaftarnya Futile Endeavours Limited pada Kamis (19/2/2026) di Inggris, para pengamat musik memprediksi Radiohead tengah menyiapkan sesuatu yang signifikan untuk tahun 2026 atau 2027.
Antara Kesibukan Solo dan Reuni
Meski perusahaan baru sudah terbentuk, sang gitaris Jonny Greenwood sempat memberikan pernyataan yang sedikit “mendinginkan” ekspektasi penggemar. Dalam sebuah wawancara, dia mengaku belum tahu pasti kapan mereka akan kembali merilis musik baru secara bersama-sama.
“Saya terkejut tur kemarin bisa terlaksana dan kami semua sangat menikmatinya. Tapi untuk melakukan tur lagi, kami harus memutuskannya sekarang, dan itu pun mungkin baru terjadi 18 bulan lagi karena jadwal venue yang sudah penuh dipesan,” kata Jonny dikutip dari NME pada Minggu (22/2/2026).
Saat ini, para personel Radiohead memang tengah sibuk dengan proyek musik masing-masing. Namun, keberadaan Futile Endeavours Limited yang mencantumkan nama Thom Yorke, Jonny Greenwood, Colin Greenwood, Ed O’Brien, dan Philip Selway sebagai direktur, menegaskan bahwa Radiohead sebagai satu kesatuan tetap aktif secara organisasi dan bisnis.
Sejak memutuskan bergerak independen dan lepas dari label besar pasca-album Hail To The Thief (2003), Radiohead memang dikenal sangat mandiri dalam mengelola hak cipta dan distribusi karya-karya mereka.



