32.8 C
Surabaya
15 April 2026
spot_img

Rudal Iran Hantam Pangkalan Militer Amerika Serikat dan Klaim Ratusan Personel Jadi Korban

TEHERAN, ALIANSIBERITA.ID – Situasi di Timur Tengah mendadak membara setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran meluncurkan serangan rudal balasan besar-besaran terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di seluruh kawasan.

Teheran mengklaim sedikitnya 200 personel militer AS tewas dan terluka dalam operasi tersebut.

Ketegangan ini merupakan buntut dari serangan udara “preemtif” yang dilancarkan Israel terhadap fasilitas militer dan nuklir Iran pada Sabtu (28/2/2026) dini hari.

Operasi militer Israel tersebut dilaporkan mendapat restu penuh dari Presiden AS Donald Trump, yang menyebut kegagalan diplomasi nuklir sebagai pemicu utama.

Pangkalan Udara dan Armada Kelima AS Jadi Target Utama

Berdasarkan laporan kantor berita Tasnim, IRGC menyatakan bahwa serangan rudal mereka menghujam titik-titik vital pertahanan Amerika di beberapa negara sekaligus.

Daftar fasilitas militer AS yang menjadi sasaran serangan balasan Iran meliputi:

  • Pusat Dukungan Armada Kelima (Fifth Fleet) di Bahrain.
  • Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar dan Ali Al Salem di Kuwait.
  • Pangkalan Udara Al Dhafra di Uni Emirat Arab (UEA).
  • Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi dan Muwaffaq Al Salti di Yordania.
  • Fasilitas militer AS di wilayah Kurdistan, Irak.

Selain menyasar aset Amerika, militer Iran juga dilaporkan meluncurkan sekitar 35 rudal ke wilayah Israel, yang mengakibatkan satu orang terluka menurut laporan media setempat.

Jenderal IRGC: Kami Punya Senjata Rahasia dalam Air Garam

Menanggapi situasi ini, Jenderal IRGC Ebrahim Jabbari memberikan peringatan keras kepada Donald Trump. Ia menegaskan bahwa Republik Islam Iran memiliki kemampuan tempur yang jauh lebih maju dan siap untuk perang berkepanjangan.

“Pada awal perang, kami akan mengerahkan segala yang ada di gudang senjata kami,” tegas Jabbari dikutip dari rt.com, Minggu (1/3/2026).

Dia juga melontarkan istilah metaforis mengenai senjata rahasia Iran yang selama ini disimpan rapat.

“Apa yang belum kami tunjukkan hingga sekarang, apa yang kami orang Iran sebut ‘disimpan dalam air garam’, akan kami ungkapkan dalam beberapa hari ke depan,” ujarnya dengan nada mengancam.

Mengulang Tragedi Juni 2025

Eskalasi kali ini merupakan kampanye militer besar kedua yang dilancarkan Israel terhadap Iran dalam kurun waktu kurang dari satu tahun.

Pada Juni 2025 lalu, konflik 12 hari sempat pecah saat IDF bekerja sama dengan militer AS melakukan pemboman mendadak ke fasilitas nuklir Iran.

Serangan tahun lalu itu menewaskan komandan senior, pejabat pemerintah, hingga ilmuwan nuklir Iran.

Dengan adanya korban jatuh di pihak Amerika kali ini, dunia kini mengkhawatirkan terjadinya perang terbuka yang lebih luas di kawasan tersebut.

Related Articles

Komentar Anda

IKUTI KAMI

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles