SURABAYA, ALIANSIBERITA.ID – Angka 100 bukanlah sekadar deretan statistik kosong buat seorang Ernando Ari Sutaryadi. Bagi penjaga gawang andalan Persebaya Surabaya ini, pencapaian seratus laga adalah kristalisasi dari keringat, kerja keras, dan dedikasi tanpa batas sejak ia pertama kali menginjakkan kaki di skuad kebanggaan Bonek.
Mencapai 100 penampilan bersama satu klub di era sepak bola modern adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Pemain yang akrab disapa Nando ini tak menutupi rasa harunya. Baginya, setiap menit di lapangan adalah wujud kepercayaan yang harus dibayar lunas.
“Saya sangat bahagia dan bangga bisa mencatatkan 100 penampilan bersama Persebaya. Ini bukan perjalanan yang singkat, dan saya sangat bersyukur bisa terus dipercaya serta membantu tim sejauh ini,” ungkap Ernando, dikutip dari laman resmi Persebaya pada Kamis (5/3/2026).
Ditempa lewat Kawah Candradimuka Akademi
Jauh sebelum berdiri kukuh di bawah mistar gawang tim utama, fondasi karier Nando dibangun melalui kompetisi usia muda di Elite Pro Academy (EPA) Persebaya.
Di kawah candradimuka inilah mentalnya mulai dibentuk. Dia belajar menaklukkan tekanan demi tekanan, sekaligus mempertajam insting dan refleksnya sebagai benteng pertahanan terakhir.
Kerja keras di level pembinaan itu akhirnya bermuara pada momen puncaknya di Liga 1 musim 2021/2022. Laga melawan Borneo FC Samarinda menjadi debut resmi Nando di tim senior, sekaligus membuka gerbang perjalanannya di kancah sepakbola profesional Tanah Air.
Momen Emas di Laga Bertensi Tinggi
Sejak debutnya, kiper asal Semarang ini terus berproses mengamankan posisi inti. Dari ratusan menit yang telah dilaluinya, ada satu pertandingan yang tak akan pernah lekang dari ingatan Nando. Momen itu terjadi pada pekan ke-33 Liga 1 2022/2023, kala Persebaya melakoni duel sarat gengsi melawan rival abadinya, Arema FC di Stadion PTIK.
Tensi pertandingan saat itu luar biasa panas. Bajul Ijo tengah memimpin 1-0 berkat gol Muhammad Iqbal. Namun, petaka nyaris datang saat Arema FC mendapatkan hadiah penalti. Di titik krusial inilah Nando tampil sebagai pahlawan. Dengan ketenangan luar biasa, refleks cepatnya sukses mementahkan eksekusi penalti lawan, sekaligus mengunci kemenangan Persebaya.
“Kalau bicara momen yang paling berkesan, tentu saat saya menepis penalti Arema di Jakarta. Itu momen yang sangat krusial dan jadi kenangan yang sangat berarti buat saya pribadi,” kenangnya.
Konsistensi: Harga Mati Seorang Penjaga Gawang
Perjalanan menembus 100 laga tentu penuh kerikil. Menjadi penjaga gawang berarti siap berada di bawah sorotan tajam, satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal. Tantangan terbesarnya adalah menjaga konsistensi performa di tengah tingginya ekspektasi publik.
“Sebagai penjaga gawang, konsistensi adalah kunci. Intinya adalah menjawab kepercayaan pelatih dengan kerja keras, baik di latihan maupun di pertandingan,” tegas Nando.
Kedisiplinan di luar lapangan, menjaga pola makan, hingga mempertahankan kebugaran fisik menjadi rutinitas wajib yang tak bisa ditawar. Semua itu dilakukan demi membalas kepercayaan dari jajaran pelatih.
Kini, setelah melampaui 100 laga, Nando belum ingin berpuas diri. Targetnya masih membubung tinggi untuk menorehkan tinta emas dalam sejarah klub.
“Target saya tentu ingin membawa Persebaya menjadi juara. Secara pribadi, ambisi saya adalah selalu tampil maksimal di setiap pertandingan dan memberikan kontribusi terbaik,” tutupnya.
Seratus laga hanyalah satu babak dari buku perjalanan panjang Ernando Ari. Bagi Persebaya dan para pendukungnya, kisah sang penjaga gawang ini masih akan terus berlanjut, menyuguhkan rentetan penyelamatan gemilang di masa depan.



