MEDAN, ALIANSIBERITA.ID – Organisasi Islam legendaris, Al Jam’iyatul Washliyah, kini tengah berada di persimpangan jalan sejarah.
Menjelang perhelatan Musyawarah Nasional atau Muktamar yang dijadwalkan pada 10-11 Juli 2026 mendatang, aroma keinginan akan perubahan besar mulai menyeruak ke permukaan.
Muktamar kali ini bukan sekadar ajang rutin lima tahunan untuk menyusun struktur Pengurus Besar (PB) Al Jam’iyatul Washliyah periode 2026-2031.
Lebih dari itu, ajang ini menjadi “pertaruhan” bagi organisasi yang lahir pada 30 November 1930 tersebut untuk membuktikan relevansinya di tengah zaman yang bergerak serba cepat.
Menanti Transformasi di Ambang Satu Abad
Hampir satu abad berdiri, Al Washliyah dinilai masih berjalan di tempat. Sejumlah kalangan internal merasa belum ada lompatan signifikan yang mampu membawa organisasi ini bersaing di level yang lebih tinggi, baik secara ekonomi, pendidikan, maupun peran sosial politik yang lebih progresif.
Harapan besar kini tertumpu pada para muktamirin (peserta muktamar) agar tidak hanya terjebak pada politik praktis pemilihan ketua, melainkan fokus pada Garis-Garis Besar Haluan Organisasi yang lebih kreatif dan transformatif.
Munculnya Sosok ‘Kuda Hitam’
Kegelisahan ini nyatanya juga dirasakan oleh para tokoh senior. Berdasarkan informasi yang dihimpun Aliansiberita.id, telah muncul gerakan arus bawah yang mulai menggalang dukungan untuk sosok baru. Seorang ulama sekaligus cendekiawan terkemuka Al Washliyah—yang dalam beberapa periode terakhir memilih berada di luar struktur—dikabarkan siap turun gunung.
Meski saat ini beliau masih enggan mempublikasikan namanya secara terbuka, tokoh tersebut menyatakan keprihatinan mendalam atas kondisi organisasi yang dianggap kehilangan arah kompasnya.
“Beliau menyatakan kesediaannya untuk memimpin Al Jam’iyatul Washliyah periode 2026-2031, asalkan itu merupakan kehendak murni dari umat, warga Washliyah, dan para kader yang menginginkan perubahan nyata,” ungkap sumber internal yang menemui tokoh tersebut.
Semangat Kader Muda: Darah Baru untuk Perubahan
Desakan perubahan ini pun mendapat dukungan penuh dari elemen pemuda. Shah, salah satu tokoh kader muda Al Washliyah, menegaskan bahwa regenerasi dan perubahan pola pikir adalah harga mati jika ingin organisasi ini selamat menyongsong abad keduanya.
Menurut Shah, para kader muda tidak akan tinggal diam dan siap menjadi garda terdepan dalam proses transisi ini.
“Kami para kader muda Al Washliyah, siap menumpahkan segala pikiran, tenaga, waktu, bahkan materi sekalipun untuk memastikan adanya perubahan bagi Al Washliyah ke depan,” tegas Shah kepada Aliansiberita.id.
Muktamar Juli 2026 nanti diprediksi akan menjadi salah satu perhelatan paling dinamis dalam sejarah Al Washliyah. Apakah organisasi ini akan tetap bertahan dengan pola lama, ataukah lahir kepemimpinan baru yang mampu membawa Al Washliyah bertransformasi menjadi kekuatan Islam yang lebih modern? Semua mata kini tertuju pada Medan.
Alief DA
(+62 821-6654-4987)



