DUMAI, ALIANSIBERITA.ID – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Dumai menggelar aksi demonstrasi di depan Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Riau, Pekanbaru, Jumat (22/5/2026).
Massa datang dengan satu tuntutan utama yakni mendesak aparat membongkar dugaan praktik mafia minyak dan bisnis BBM ilegal yang dinilai semakin mengakar di Kota Dumai.
Aksi tersebut menjadi bentuk kekecewaan mahasiswa terhadap penanganan kasus mafia migas yang dianggap berjalan lambat dan minim ketegasan.
Mereka bahkan menyebut kondisi di Dumai sudah darurat mafia BBM karena aktivitas penimbunan minyak ilegal dan dugaan permainan distribusi dinilai terus berlangsung tanpa penindakan serius.
Koordinator lapangan aksi, Satria Ramadhan mengatakan mahasiswa sengaja membawa persoalan ini langsung ke tingkat provinsi karena aspirasi yang sebelumnya disuarakan di daerah tidak pernah mendapatkan respons konkret.
“Kenapa kami jauh-jauh dari Dumai ke Pekanbaru, karena kami tidak pernah digubris di Dumai sana,” tegas Satria Ramadhan dalam keterangannya, Minggu (24/5/2026).
Desak Bongkar Gudang BBM dan Kapal SPOB Ilegal
Dalam aksinya, massa membawa sejumlah tuntutan yang dinilai mendesak untuk segera ditindaklanjuti oleh Polda Riau. Mereka meminta aparat mengusut tuntas dugaan mafia penimbunan BBM dan crude palm oil (CPO) ilegal yang disebut marak beroperasi di wilayah Dumai.
Mahasiswa juga mendesak penindakan terhadap operasional kapal SPOB (Self Propelled Oil Barge) ilegal yang diduga menjadi bagian dari rantai distribusi minyak ilegal di kawasan pesisir.
Tak hanya itu, mereka meminta audit menyeluruh terhadap sejumlah SPBU yang ditengarai ikut bermain dalam distribusi BBM ilegal. Dugaan praktik tersebut disebut menjadi salah satu penyebab antrean panjang BBM yang kerap dikeluhkan masyarakat.
Menurut massa aksi, persoalan mafia migas tidak lagi sekadar pelanggaran hukum biasa, tetapi sudah berdampak langsung terhadap ekonomi masyarakat kecil. Mereka menilai pembiaran yang terjadi selama ini memperlihatkan lemahnya pengawasan dan penegakan hukum di daerah.
PMII Nilai Aparat Harus Dievaluasi
Aksi mahasiswa PMII Dumai mendapat dukungan penuh dari Majelis Pembina Cabang (MABINCAB) PMII Cabang Dumai, Teguh Hidayat.
Dia menilai langkah mahasiswa membawa isu tersebut ke Mapolda Riau merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi daerah yang dinilai semakin memprihatinkan.
“Kami dari jajaran Majelis Pembina Cabang mendukung penuh langkah adik-adik PMII Dumai yang melakukan aksi langsung di depan Mapolda Riau,” kata Teguh.
“Masalah mafia minyak di Dumai ini sudah sangat merugikan masyarakat kecil dan merusak tatanan ekonomi daerah. Ini adalah momentum bagi Polda Riau untuk membuktikan komitmennya dalam memberantas kejahatan kerah putih di sektor migas secara transparan,” tuturnya.
Selain meminta pembongkaran jaringan mafia minyak, mahasiswa juga mendesak Kapolda Riau mengevaluasi jajaran aparat penegak hukum di tingkat wilayah.
Mereka menilai keberadaan gudang-gudang penimbunan minyak ilegal yang diduga bebas beroperasi selama ini tidak mungkin luput dari pengawasan aparat.
Mahasiswa menegaskan, aparat penegak hukum tidak boleh hanya berhenti pada penertiban simbolik atau operasi sesaat. Mereka meminta ada langkah konkret, transparan, dan berkelanjutan agar praktik mafia migas benar-benar diputus hingga ke akar.
Massa Ancam Kawal Kasus Hingga Tuntas
Aksi demonstrasi berlangsung dengan pengawalan ketat aparat kepolisian sejak siang hari. Massa membawa spanduk dan menyerukan berbagai tuntutan terkait pemberantasan mafia minyak di Dumai.
PMII Dumai memastikan mereka akan terus mengawal perkembangan kasus tersebut hingga ada tindakan nyata dari Polda Riau.
Mereka menegaskan, perjuangan ini bukan sekadar agenda demonstrasi mahasiswa, tetapi bentuk desakan publik agar negara hadir melindungi masyarakat dari praktik mafia ekonomi yang merugikan rakyat.



