27.5 C
Surabaya
20 July 2026
spot_img

MPLS Ramah di SMK PGRI 13 Surabaya Jadi Awal Membangun Sekolah yang Aman dan Inklusif

SURABAYA, ALIANSIBERITA.ID – Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah 2026 di SMK PGRI 13 Surabaya menjadi momentum penting dalam membangun lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, sekaligus menghargai setiap peserta didik sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki di sekolah.

Melalui kegiatan tersebut, sekolah tidak hanya memperkenalkan ruang kelas, tenaga pendidik, teman sebaya, tata tertib, maupun lingkungan sekolah. Lebih dari itu, pihak sekolah juga mulai mengenali karakter, potensi, kebutuhan, kondisi sosial-emosional, hingga kesiapan belajar para murid baru.

Tenaga pendidik, Astika menegaskan bahwa MPLS bukan sekadar agenda rutin pada awal tahun ajaran, melainkan langkah awal membangun kedekatan antara sekolah dengan peserta didik.

“Ini bukan sekadar agenda awal tahun ajaran, tetapi pintu pertama anak mengenal sekolah sebagai rumah kedua. Anak harus merasa aman, diterima, dihargai, dan gembira sejak hari pertama sampai akhir, termasuk saat diperkenalkan dengan seluruh kegiatan ekstrakurikuler,” ujar Astika, Kamis (16/7/2026) lalu.

Tolak Perpeloncoan dan Kekerasan

Semangat MPLS Ramah juga menegaskan komitmen sekolah untuk menghapus praktik-praktik yang tidak lagi relevan dalam masa orientasi siswa.

Kegiatan tersebut harus bebas dari perpeloncoan, kekerasan fisik maupun psikis, pungutan yang memberatkan, penggunaan atribut yang tidak memiliki nilai edukatif, hingga aktivitas yang tidak berkaitan dengan tujuan pendidikan.

Selain itu, sekolah juga memastikan tidak ada pelibatan pihak-pihak yang tidak berkepentingan dalam pelaksanaan MPLS sehingga seluruh kegiatan tetap berjalan sesuai prinsip perlindungan anak.

Perlu Evaluasi untuk MPLS 2027

Di sisi lain, alumni SMK PGRI 13 Surabaya, Mayangsari, menilai pelaksanaan MPLS Ramah 2026 tetap perlu menjadi bahan evaluasi agar penyelenggaraan pada tahun 2027 semakin berkualitas, merata, dan memberikan dampak yang lebih besar bagi peserta didik.

Astika juga berpandangan bahwa keberhasilan MPLS tidak cukup diukur dari selesainya seluruh rangkaian kegiatan atau penampilan ekstrakurikuler semata.

Menurutnya, seluruh organisasi dan kegiatan sekolah, termasuk IKS.PI Kera Sakti yang turut memperkenalkan seni bela diri kepada calon murid baru, merupakan bagian dari upaya mengenalkan pilihan pengembangan minat dan bakat siswa.

Namun, yang lebih penting adalah memastikan budaya ramah anak benar-benar diterapkan sepanjang tahun ajaran, bukan hanya selama masa pengenalan sekolah.

Untuk pelaksanaan MPLS Ramah 2027, sejumlah aspek dinilai perlu diperkuat, mulai dari evaluasi yang berbasis pengalaman peserta didik, peningkatan pengawasan dan kanal pengaduan, hingga kesiapan guru serta panitia dalam menyelenggarakan kegiatan.

Selain itu, keterlibatan seluruh anggota OSIS sejak tahap pra-MPLS hingga pasca-MPLS juga dinilai penting. Pemerataan kualitas pelaksanaan MPLS di berbagai jenjang pendidikan, penguatan materi pembentukan karakter yang sesuai dengan tantangan generasi saat ini, serta menjadikan nilai-nilai MPLS Ramah sebagai budaya sekolah sepanjang tahun juga menjadi perhatian utama.

(Lastomo)

Related Articles

Komentar Anda

IKUTI KAMI

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles