ALIANSIBERITA.ID, JAKARTA – Menjadi suporter sepakbola bagi Dyota Wiradhian bukan sekadar soal memilih satu klub dan kemudian berhenti di sana.
Darah Surabaya membuatnya tumbuh sebagai Bonek yang mencintai Persebaya, sementara kecintaannya terhadap sepakbola Italia menjadikannya seorang Milanisti.
Dua kecintaan itu sudah berjalan berdampingan sejak dia masih duduk di bangku sekolah dasar.
Kini, setelah lebih dari tiga dekade menjadi pendukung AC Milan, Dyota kembali membuat perjalanan khusus demi klub kesayangannya. Dia terbang dari Samarinda, Kalimantan Timur, menuju Jakarta untuk menyaksikan langsung AC Milan menghadapi Chelsea di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) pada Sabtu (8/8/2026).
Yang membuat perjalanan kali ini terasa berbeda, Dyota tidak datang sendirian. Dia mengajak putri tercintanya.
Bagi Arek Suroboyo yang kini tinggal di Samarinda itu, perjalanan tersebut bukan cuma tentang melihat pemain AC Milan dari dekat. Ada sebuah kenangan yang ingin dia bangun bersama sang putri sekaligus memperkenalkan kecintaan terhadap Rossoneri sejak usia dini.
“Sangat excited bisa melihat langsung pemain tim idola bermain, terlebih saya juga mengajak putri saya untuk mulai memberikan legacy menjadi Milanisti sejak kecil,” ujar Dyota, dikutip pada Minggu (9/8/2026).
Dari Arek Suroboyo Menjadi Milanisti
Kecintaan Dyota terhadap sepakbola tumbuh ketika dirinya masih kelas 6 SD, sekitar 1994.
Saat itu, Liga Italia menjadi salah satu kompetisi yang begitu populer di Indonesia. AC Milan pun sedang berada di era kejayaannya dan menjadi klub yang sulit dilewatkan dari perhatian penggemar sepakbola.
Dyota ikut terseret dalam demam tersebut.
Namun sebagai warga Surabaya, kecintaannya kepada sepakbola tidak hanya tertuju kepada klub asal Italia. Pada tahun yang sama, dia mulai mengikuti Liga Indonesia dan memberikan dukungan kepada Persebaya.
Identitas sebagai Milanisti dan Bonek pun berjalan beriringan.
Bertahun-tahun kemudian, kecintaan tersebut membawanya mendapatkan kesempatan menyaksikan AC Milan secara langsung di berbagai negara.
Pada 2019, Dyota datang ke San Siro, markas kebanggaan Rossoneri di Milan, Italia.
Kemudian pada 2025, dia kembali menyaksikan AC Milan secara langsung ketika klub tersebut bermain di Singapura menghadapi Arsenal.
Karena itu, ketika AC Milan kembali memasukkan Indonesia dalam agenda tur pramusim mereka, Dyota merasa tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut.
Dari Samarinda ke Jakarta Bersama Putri
Perjalanan menuju Jakarta kali ini ditempuh Dyota dari Samarinda. Dia berada di ibu kota selama tiga hari dua malam.
Tidak seperti sebagian Milanisti yang datang melalui komunitas, Dyota memilih melakukan perjalanan bersama putrinya. Dia memang tidak bergabung dengan komunitas fans AC Milan di Indonesia.
Selama di Jakarta, Dyota juga memilih hotel yang memiliki akses mudah untuk mengikuti aktivitas AC Milan dan berkesempatan bertemu dengan para pemain.
Ada alasan tersendiri mengapa dia membawa sang putri. Ya, Dyota ingin putrinya merasakan langsung pengalaman menjadi seorang Milanisti.
Bukan sekadar mengenal AC Milan dari televisi, media sosial atau cerita sang ayah, tetapi melihat sendiri pemain, stadion, suporter, chant hingga koreografi yang selama ini menjadi bagian dari budaya sepakbola.
“Pengorbanan tidak akan terasa untuk sesuatu yang membuat kita bahagia,” tegas Dyota.
Kalimat itu sederhana, tetapi cukup menggambarkan bagaimana dia memandang perjalanan Samarinda-Jakarta tersebut.
Dari Menunggu Pemain hingga Larut dalam Chant Milanisti
Pengalaman paling berkesan bagi Dyota justru datang dari reaksi putrinya.
Sang anak ternyata begitu antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Bahkan, rela menunggu berjam-jam di hotel demi bisa melihat pemain AC Milan.
Ketika pertandingan tiba, antusiasme itu tidak hilang.
Putrinya ikut menikmati suasana stadion yang dipenuhi Milanisti Indonesia. Chant bergema dari tribun, sementara koreografi suporter membuat atmosfer GBK terasa seperti pesta besar bagi para pendukung Rossoneri.
Bagi Dyota, melihat putrinya menikmati pengalaman tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri.
Dia merasa telah memberikan sebuah pengalaman yang kelak bisa menjadi bagian dari cerita masa kecil sang anak.
“Beruntung bisa memberikan core memories yang bisa membuat dia bercerita bangga saat dewasa nanti,” kata Dyota.
Bagi seorang ayah yang sudah menjadi Milanisti sejak 1994, mungkin tidak ada warisan yang lebih menyenangkan daripada melihat anaknya mulai jatuh cinta kepada klub yang sama.
Bonek dan Milanisti, Dua Identitas yang Tetap Melekat
Menariknya, kecintaan Dyota kepada AC Milan tidak pernah membuat identitasnya sebagai Arek Suroboyo dan Bonek hilang.
Persebaya tetap menjadi bagian dari kecintaannya terhadap sepakbola.
Justru dari Surabaya-lah dia kali pertama mengenal fanatisme sepakbola dan kemudian memahami bagaimana sebuah klub bisa memiliki tempat khusus di hati pendukungnya.
Semangat itu pula yang dia lihat ketika berada di GBK.
Menurut Dyota, Milanisti Indonesia tetap menunjukkan loyalitas dan militansi mereka. Dia bahkan merasa atmosfer yang tercipta mengingatkannya pada pengalaman menyaksikan AC Milan di Singapura pada 2025.
“Milanisti Indonesia selalu loyal dan militan dan mampu mendominasi atmosfer stadion dengan chant dan koreonya,” tuturnya.
Sebagai orang yang tumbuh dalam kultur sepakbola Surabaya, suasana seperti itu tentu bukan sesuatu yang asing bagi Dyota.
Dia tahu bagaimana rasanya berada di tengah massa suporter yang bernyanyi bersama untuk klub yang mereka cintai.
Kalah 0-3, Tetapi Kenangan Tetap Manis
Sayangnya, cerita di GBK tidak berakhir dengan kemenangan AC Milan. Chelsea berhasil mengalahkan Rossoneri dengan skor 3-0.
Dyota mengakui ada rasa sedih dan kecewa. Terlebih, pertandingan tersebut menjadi bagian dari pengalaman yang dia ingin berikan kepada putrinya.
“Sedih dan kecewa pasti ada, apalagi memberikan kesan kurang sempurna di mata putri saya,” ujarnya.
Namun, kekalahan tersebut tidak membuatnya kehilangan kepercayaan terhadap AC Milan.
Sebagai Milanisti yang sudah mengikuti klub selama puluhan tahun, dia mengaku sudah terbiasa merasakan kekecewaan. Kini, harapannya diarahkan kepada Ruben Amorim.
Dyota berharap mantan juru taktik Manchester United itu mampu membawa AC Milan meraih Scudetto musim ini.
Bagi dia, satu hasil buruk tidak cukup untuk menghapus kecintaan yang sudah tumbuh sejak 1994.
Kalau Milan Datang Lagi, Siap Berangkat Lagi
Bagi Dyota, kedatangan AC Milan ke Indonesia bukan sekadar agenda pramusim.
Dia melihatnya sebagai bentuk apresiasi terhadap para pendukung Rossoneri di Indonesia yang jumlahnya sangat besar.
Dan kalau suatu saat AC Milan kembali datang ke Indonesia, Dyota sudah memastikan dirinya siap kembali.
Dyota berharap bisa kembali bersama putrinya. “Insya Allah saya dan putri saya akan menonton lagi,” ujarnya.
Ada satu impian yang ingin diwujudkannya. Dia berharap suatu hari nanti AC Milan kembali ke Indonesia dengan membawa status sebagai juara Italia dan Eropa.
Bagi Arek Suroboyo yang kini tinggal jauh dari kampung halamannya, perjalanan Samarinda-Jakarta tersebut akhirnya menjadi lebih dari sekadar perjalanan seorang penggemar sepakbola.
Ada Persebaya yang menjadi bagian dari identitasnya sebagai Bonek. Ada AC Milan yang sudah dicintainya sejak 1994. Dan sekarang, ada putrinya yang mulai mengenal klub yang sama.
Mungkin hasil pertandingan 0-3 akan tercatat dalam statistik. Namun bagi Dyota, cerita yang jauh lebih penting justru terjadi di luar papan skor, yakni ketika seorang ayah mengajak putrinya datang ke stadion dan memperkenalkan kepadanya sebuah kecintaan yang sudah menemani hidupnya selama lebih dari 30 tahun.
Dari Surabaya, tumbuh sebagai Bonek. Dari kecintaan pada sepakbola Italia, menjadi Milanisti. Dan dari Samarinda, dia membawa cerita itu ke Jakarta untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.



