Tumpengan hingga Sembelih Puluhan Ternak, Ribuan Jamaah Padati Sedekah Bumi Desa Dibee Lamongan

ALIANSIBERITA.ID, LAMONGAN – Suasana berbeda terasa di Desa Dibee, Kecamatan Kalitengah, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Rabu (9/9/2026). Ribuan warga memadati lokasi untuk mengikuti rangkaian Sedekah Bumi yang digelar sebagai bagian dari tradisi turun-temurun masyarakat setempat.

Bukan hanya warga desa yang hadir. Jamaah dari sejumlah daerah, termasuk Surabaya, turut berdatangan. Sedikitnya 5.000 orang mengikuti kegiatan yang memadukan tradisi leluhur, doa bersama, pengajian, serta kebersamaan warga tersebut.

Sedekah Bumi di Desa Dibee selama ini dikenal sebagai tradisi yang digelar pada bulan Muharam atau Sura. Pelaksanaannya juga berkaitan dengan momentum tertentu yang dianggap memiliki nilai penting bagi masyarakat setempat, termasuk tradisi leluhur dan Haul Mbah Karimah.

Tradisi Leluhur yang Tetap Dijaga

Rangkaian Sedekah Bumi tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial. Warga membawa dan mengarak hasil bumi sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki serta hasil pertanian yang diperoleh.

Dalam pelaksanaan tahun ini, rangkaian acara juga diwarnai penyembelihan dua ekor sapi dan 45 kambing. Tumpeng, doa bersama hingga kegiatan yang berkaitan dengan penghormatan kepada leluhur menjadi bagian dari tradisi yang masih dipertahankan masyarakat Desa Dibee.

Sejumlah tradisi lain juga melekat dalam kegiatan Sedekah Bumi Desa Dibee, termasuk ziarah ke makam leluhur setempat seperti Makam Mbok Roro Bojo maupun rangkaian Haul Mbah Karimah.

Bagi masyarakat setempat, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk berkumpul sekaligus menjaga hubungan sosial antarmasyarakat.

Pada momentum tertentu, tradisi Sedekah Bumi Desa Dibee juga pernah menjadi perhatian luas karena adanya kegiatan sebar uang maupun rebutan tumpeng.

(Foto: aliansiberita.id/awan)

Jamaah dari Surabaya Ikut Datang

Selain rangkaian tradisi desa, kegiatan pada Rabu (9/9/2026) malam itu juga diisi pengajian yang menghadirkan sejumlah tokoh agama. Di antaranya KH Alawi Muhammad dari Lamongan, Habib Hanif Al Badad dari Surabaya, serta Gus Candra Alimabad Moustofa.

Antusiasme masyarakat terlihat dari banyaknya jamaah yang datang. Mereka tidak hanya berasal dari Lamongan dan wilayah sekitarnya, tetapi juga dari Surabaya.

Salah satunya Mahmud, warga Dupak, Surabaya. Dia datang bersama keluarganya menggunakan mobil pribadi.

Bagi Mahmud, perjalanan dari Surabaya ke Desa Dibee bukan sekadar untuk menghadiri pengajian, tetapi juga menjadi kesempatan mengenalkan tradisi masyarakat kepada keluarganya.

“Selain ingin mengikuti pengajian, kami juga penasaran dengan tradisi Sedekah Bumi di sini. Jadi sekalian mengajak keluarga agar bisa melihat langsung suasana dan tradisi yang masih dijaga masyarakat,” ungkap Mahmud.

Menurut dia, banyaknya jamaah yang hadir menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan dan tradisi masyarakat masih memiliki daya tarik tersendiri, bahkan bagi warga yang datang dari luar daerah.

“Saya datang bersama keluarga dari Surabaya naik mobil pribadi. Suasananya ramai sekali dan masyarakatnya juga terlihat guyub. Ini yang menurut saya menarik,” ujarnya.

Jadi Ruang Silaturahmi Warga

Kehadiran ribuan jamaah membuat Sedekah Bumi Desa Dibee tidak hanya menjadi agenda tahunan masyarakat setempat. Acara tersebut sekaligus berkembang menjadi ruang silaturahmi antara warga desa dengan masyarakat dari berbagai daerah.

Perpaduan antara tradisi Sedekah Bumi, penghormatan kepada leluhur, doa bersama dan pengajian menjadi daya tarik tersendiri dalam kegiatan tersebut.

Di tengah perubahan zaman, masyarakat Desa Dibee masih berupaya mempertahankan tradisi yang diwariskan generasi sebelumnya.

Bagi warga, Sedekah Bumi bukan semata-mata tentang kemeriahan acara, tetapi juga menjadi momentum untuk bersyukur, berkumpul dan mempererat hubungan antarsesama.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

IKUTI KAMI

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
spot_img

Latest Articles