ALIANSIBERITA.ID – Wakil Perdana Menteri Spanyol, Yolanda Diaz, melontarkan kritik pedas terhadap jajaran pemimpin Uni Eropa (UE) yang dianggapnya menunjukkan sikap “servile” atau menghamba secara berlebihan kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Diaz memperingatkan bahwa lemahnya posisi Brussels di hadapan Washington justru akan memperkuat sentimen Eurosceptic di seluruh benua.
Uni Eropa seperti “Anak Yatim” di Tengah Perang
Dalam sebuah wawancara terbaru, Diaz tidak ragu menyebut Uni Eropa sedang kehilangan arah di tengah situasi geopolitik yang sangat kritis. Dia menilai para pemimpin blok tersebut tidak memiliki keberanian untuk mengambil keputusan mandiri terkait kebijakan luar negeri mereka.
“Uni Eropa saat ini ibarat anak yatim piatu di tengah momen bersejarah yang sangat genting. Brussels seharusnya berani memperjuangkan kebijakan luar negerinya sendiri ketimbang terus-menerus disandera oleh Trump,” tegas Diaz dengan nada bicara yang tajam, seperti dikutip dari rt.com.
Dia mendesak agar Uni Eropa mengambil langkah konkret untuk melawan perang yang dinilainya “sepenuhnya ilegal” yang diluncurkan oleh AS dan Israel sejak akhir bulan lalu.
Diaz secara khusus menyentil Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, yang dianggap gagal karena tidak segera mengutuk serangan tersebut.
Ketegangan Diplomatik Madrid dan Washington
Ketegangan antara Madrid dan Washington mencapai titik didih setelah Donald Trump mengancam akan memutus total hubungan dagang dengan Spanyol. Ancaman ini merupakan buntut dari keberanian Spanyol menolak memberikan izin kepada pasukan AS untuk menggunakan pangkalan militer gabungan demi melancarkan serangan ke Iran.
Selain itu, Spanyol juga menolak target belanja pertahanan NATO sebesar 5% dari PDB karena dianggap tidak masuk akal. Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez menegaskan bahwa negaranya tidak akan menjadi kaki tangan dalam tindakan yang merugikan dunia hanya karena takut akan ancaman balasan.
Sebagai langkah nyata, Spanyol secara permanen telah menarik duta besarnya dari Israel pada Selasa lalu sekaligus secara resmi menurunkan tingkat hubungan diplomatik kedua negara.
Kritik untuk Jerman dan Krisis Hukum Internasional
Kekecewaan Diaz juga diarahkan kepada Kanselir Jerman, Friedrich Merz. Dia menyoroti sikap bungkam Merz saat duduk di Ruang Oval bersama Trump ketika ancaman terhadap Spanyol dilontarkan.
Menurut Diaz, Eropa membutuhkan kepemimpinan yang tangguh, bukan pengikut yang hanya bisa memberi penghormatan kepada AS.
Di sisi lain, kampanye militer AS-Israel di Iran nyatanya menuai kecaman luas. Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, yang biasanya memiliki hubungan baik dengan Trump, menyatakan di hadapan parlemen bahwa rentetan serangan tersebut merupakan wujud krisis nyata terhadap hukum internasional.
Bahkan dari dalam negeri AS, komentator politik Tucker Carlson mengutuk keras perang tersebut sebagai tindakan yang menjijikkan, terutama setelah adanya serangan udara ke sebuah sekolah yang menewaskan lebih dari 160 anak-anak.



