ALIANSIBERITA.ID – Dunia internasional kini tertuju pada tragedi berdarah yang menimpa sebuah sekolah dasar putri di kota Minab, Iran.
Insiden yang terjadi di tengah memanasnya konflik AS-Israel terhadap Teheran ini telah merenggut nyawa lebih dari 160 anak perempuan.
Meski awalnya dibantah keras oleh Washington, bukti-bukti baru yang muncul ke permukaan mulai mengungkap tabir keterlibatan militer Amerika Serikat.
Serangan mematikan tersebut menghantam Sekolah Dasar Shajarah Tayyebeh pada 28 Februari lalu. Operasi militer yang dilabeli Operation Epic Fury oleh pemerintahan Donald Trump ini menyisakan duka mendalam bagi warga sipil dan memicu kecaman keras dari berbagai pemimpin dunia.
Detik-detik Hancurnya Masa Depan 160 Siswi
Menurut laporan saksi mata dan rekaman video yang berhasil diverifikasi, setidaknya dua rudal menghantam bangunan sekolah secara beruntun. Ledakan tersebut mengakibatkan kehancuran total pada gedung pendidikan tersebut.
- Korban Jiwa: Lebih dari 170 orang tewas, mayoritas adalah siswi SD.
- Dampak Fisik: Reruntuhan bangunan yang terbakar dan lubang kawah besar di area sekolah.
- Respons Global: PBB menyebutnya sebagai “serangan terhadap masa depan komunitas” dan pelanggaran berat hukum humaniter.
Temuan Rudal Tomahawk dan Bantahan Gedung Putih
Awalnya, Presiden AS Donald Trump menepis keterlibatan pasukannya dengan menuding bahwa militer Iran sendiri yang melakukan kesalahan peluncuran.
Namun, sebuah bukti krusial muncul pada 8 Maret lewat rekaman video yang menunjukkan siluet rudal BGM-109 Tomahawk buatan AS yang menghantam sasaran.

Faktanya, rudal Tomahawk bukanlah senjata sembarangan yang bisa dimiliki oleh banyak negara. Hanya AS dan segelintir sekutu dekatnya seperti Inggris dan Australia yang mengoperasikannya.
Temuan serpihan komponen elektronik di lokasi kejadian semakin menguatkan dugaan bahwa serangan ini diluncurkan dari aset militer Amerika Serikat.
Kegagalan Intelijen: Penggunaan Data Kedaluwarsa
Laporan investigasi terbaru dari The New York Times mengungkap borok di balik penargetan tersebut. Pentagon diduga menggunakan data intelijen dari Defense Intelligence Agency (DIA) yang sudah kedaluwarsa selama lebih dari satu dekade.
Berdasarkan data usang tersebut, lokasi sekolah masih terdaftar sebagai fasilitas militer Garda Revolusi (IRGC).
Padahal, citra satelit terbaru menunjukkan dengan jelas bahwa area tersebut telah bertransformasi menjadi kawasan sipil, lengkap dengan lapangan olahraga dan mural khas anak-anak.
Kegagalan human error dalam verifikasi target inilah yang menjadi biang keladi pembantaian tersebut.
Reaksi Keras Iran dan Keretakan Aliansi Barat
Teheran tidak tinggal diam. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei menyebut aksi ini sebagai kejahatan perang yang sangat keji.
Foto-foto deretan liang lahat kecil untuk para korban juga diunggah oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi sebagai pesan protes keras kepada dunia.
Di sisi lain, solidaritas internasional mulai terbelah. Dua pemimpin Uni Eropa, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni dan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez, secara terbuka menyatakan solidaritas bagi para korban.
Sementara itu, Rusia menuding AS telah melakukan “dehumanisasi” dan menuntut tanggung jawab penuh atas pelanggaran hukum internasional ini.
Hingga saat ini, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan bahwa investigasi internal masih berlangsung dan menolak memberikan pengakuan bersalah secara resmi atas tragedi di Minab tersebut.



