ALIANSIBERITA.ID – Eskalasi ketegangan di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel kini memicu kekhawatiran global akan munculnya krisis kemanusiaan baru.
Jika agresi militer terus berlanjut di negara berpenduduk lebih dari 90 juta jiwa tersebut, gelombang eksodus besar-besaran diprediksi akan mengarah ke Benua Eropa.
Laporan terbaru dari lembaga riset berbasis di Berlin, Rockwool Foundation (RF), mengungkapkan fakta mengejutkan. Berdasarkan studi yang dikutip surat kabar Munchner Merkur pada Jumat (13/3/2026) waktu setempat, sekitar 28% calon pengungsi perang dari Iran diprediksi akan menjadikan Jerman sebagai tujuan utama mereka.
Mengapa Jerman Jadi Pilihan Utama?
Direktur RF Berlin, Christian Dustmann, menjelaskan bahwa fenomena ini didorong oleh dua faktor kunci:
- Kekuatan Diaspora: Jerman sudah memiliki komunitas warga Iran dan Lebanon yang sangat besar. Keberadaan jaringan keluarga dan teman di sana menjadi magnet bagi pendatang baru untuk mencari perlindungan.
- Aksesibilitas: Dibandingkan dengan Amerika Serikat atau Kanada yang jauh secara geografis, Eropa—khususnya Jerman—lebih mudah dijangkau melalui jalur darat maupun laut.
Selain warga Iran, laporan tersebut juga mencatat bahwa sekitar 14% migran asal Lebanon kemungkinan besar akan mencari perlindungan di negara Uni Eropa tersebut.
Uni Eropa Mulai Pasang Kuda-kuda
Kekhawatiran akan “tsunami pengungsi” ini telah sampai ke telinga para petinggi Uni Eropa. Melansir laporan Politico, blok tersebut kini tengah bersiap menghadapi segala kemungkinan terburuk.
Wakil Menteri Migrasi Siprus, Nicholas Ioannides menegaskan bahwa Uni Eropa tidak boleh meremehkan potensi krisis pengungsi baru ini.
Pasalnya, Badan Suaka Uni Eropa sendiri telah memperingatkan bahwa ketidakstabilan di Iran dapat memicu pergerakan pengungsi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Trauma Krisis 2015 Kembali Menghantui
Situasi ini membangkitkan memori kelam krisis pengungsi tahun 2015 saat perang saudara di Suriah pecah. Kala itu, lebih dari satu juta pengungsi masuk ke Eropa, yang kemudian memicu perdebatan sengit mengenai keamanan, kenaikan angka kriminalitas, hingga masalah integrasi sosial.
Menteri Migrasi Swedia, Johan Forssell, secara terbuka menyatakan bahwa Uni Eropa tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
“Kami masih merasakan dampak dari apa yang terjadi 10 tahun lalu. Mengulang skenario tersebut jelas bukan pilihan bagi Uni Eropa saat ini,” tegas Forssell.
Dunia kini menanti apakah diplomasi mampu meredam ketegangan, ataukah krisis kemanusiaan terbesar di dekade ini benar-benar akan terjadi.



