SURABAYA, ALIANSIBERITA.ID – Hasil imbang 2-2 yang diraih Persebaya Surabaya saat menjamu PSIS Semarang dalam laga pramusim 99th Anniversary Game di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Minggu (19/7/2026), menyisakan catatan penting bagi tim kepelatihan.
Alih-alih meratapi skor akhir, arsitek Green Force, Bernardo Tavares, justru menyoroti aspek mental dan proses adaptasi anak asuhnya di bawah tekanan atmosfer stadion yang bergemuruh.
Bagi pelatih berkebangsaan Portugal tersebut, laga perayaan ulang tahun ke-99 Persebaya ini bukan sekadar ajang pamer gengsi, melainkan sebuah laboratorium uji coba yang krusial sebelum kompetisi resmi bergulir.
Ujian Mental di Hadapan Ribuan Suporter
Pascapertandingan, Tavares mengungkapkan alasan di balik keputusannya melakukan rotasi besar-besaran dan memberikan menit bermain kepada banyak pemain.
Menurut pelatih berusia 46 tahun itu, atmosfer GBT yang dipadati ribuan Bonek dan Bonita memberikan simulasi tekanan nyata yang tidak bisa didapatkan pemain dalam sesi latihan reguler.
“Pada pertandingan ini kami sengaja memberikan kesempatan kepada banyak pemain. Bermain di latihan tentu berbeda dengan bermain di depan ribuan suporter di Stadion GBT. Saya ingin melihat siapa saja yang mampu tampil di bawah tekanan pertandingan sesungguhnya,” ujar Bernardo Tavares, seperti dikutip dari persebaya.id.
Persebaya sebenarnya sempat tampil menjanjikan. Striker anyar asal Brasil, Alex Martins sukses mencetak gol debutnya pada babak pertama. Tren positif tersebut sempat berlanjut di babak kedua melalui aksi Yann Mabella yang membawa Bajol Ijo kembali memimpin.
Sayangnya, kelengahan di sektor pertahanan saat intensitas permainan menurun berhasil dimanfaatkan dengan baik oleh Laskar Mahesa Jenar untuk menyamakan kedudukan.
Soroti Kesalahan Kolektif dan Akurasi Final Third
Tavares tidak menampik ada kekecewaan karena gagal mempersembahkan kemenangan di kandang sendiri. Kendati demikian, dia memilih bersikap realistis dan melihat gambaran besar dari proses evaluasi tim. Dua gol yang bersarang ke gawang Persebaya menjadi alarm dini yang harus segera direspons.
“Ada banyak hal positif yang saya lihat. Kami mampu menciptakan banyak peluang. Namun ada juga hal yang harus segera diperbaiki, terutama dua gol yang kami kebobolan akibat kesalahan individu dan kolektif yang seharusnya bisa dihindari,” jelasnya secara terbuka.
Selain lini belakang, efisiensi di sepertiga akhir lapangan (final third) juga masuk dalam buku catatan evaluasi Tavares. Banyaknya peluang yang terbuang menunjukkan bahwa ketenangan dalam mengambil keputusan masih perlu diasah.
“Kami seharusnya bisa mencetak lebih banyak gol. Peluang yang kami ciptakan cukup banyak. Yang perlu diperbaiki adalah akurasi dan pengambilan keputusan di sepertiga akhir lapangan,” imbuh mantan pelatih PSM Makassar tersebut.
Apresiasi untuk PSIS Semarang
Di sisi lain, sikap kesatria ditunjukkan Tavares dengan memberikan kredit khusus kepada tim tamu. Menurutnya, perlawanan sengit yang diberikan PSIS justru membantu Persebaya untuk memetakan kelemahan tim lebih awal.
“Saya juga memberikan apresiasi kepada PSIS Semarang. Mereka bermain dengan baik dan memberikan perlawanan yang bagus. Pertandingan seperti ini sangat penting bagi kami untuk proses evaluasi,” tuturnya.
Menutup keterangannya, pelatih berpaspor Portugal ini menegaskan bahwa nilai terbesar dari laga pramusim adalah pelajaran berharga yang dipetik oleh seluruh elemen tim. Dengan waktu yang tersisa sebelum sepak mula kompetisi resmi, Green Force masih memiliki ruang untuk berbenah dan meningkatkan level permainan mereka.



