29.5 C
Surabaya
28 April 2026
spot_img

Sinergi Strategis: IIF Gandeng Mitra Global Perkuat Benteng Risiko Iklim di Sektor Infrastruktur

JAKARTA, ALIANSIBERITA.ID – Keamanan investasi pada sektor infrastruktur kini tidak hanya diukur dari angka-angka finansial, melainkan juga dari sejauh mana proyek tersebut mampu bertahan di tengah krisis iklim.

Menyadari peran krusial tersebut, PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) secara resmi memperkokoh sistem manajemen risiko iklimnya guna menjamin keberlanjutan pembangunan di Tanah Air.

Komitmen ini mengemuka dalam ajang Climate Risk Forum and Workshop yang diinisiasi oleh Climate Policy Initiative (CPI) di Jakarta, 22 April 2026.

Pertemuan ini menjadi wadah aliansi pemikiran antara perbankan, lembaga keuangan, hingga pengembang proyek untuk merumuskan strategi praktis dalam menghadapi ancaman perubahan lingkungan yang kian dinamis.

Filosofi Investasi Bertanggung Jawab

Presiden Direktur & CEO IIF, Rizki Pribadi Hasan menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan perwujudan dari tanggung jawab moral perusahaan terhadap dana yang disalurkan. Baginya, infrastruktur yang tangguh adalah kunci pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

“Pengelolaan risiko iklim adalah fondasi keberlanjutan bagi kami. Kami berkomitmen memastikan bahwa setiap rupiah yang disalurkan tidak hanya layak secara ekonomi, tetapi juga memiliki ketahanan terhadap risiko iklim. Ini adalah visi besar IIF sebagai katalisator pembangunan infrastruktur berkelanjutan,” ujar Rizki dalam keterangan tertulisnya, Selasa (28/4/2026).

Langkah konkret telah diambil melalui dukungan Technical Assistance dari CPI. Sejak tahun 2025, IIF telah mengintegrasikan kebijakan manajemen risiko iklim ke dalam seluruh proses bisnis, mulai dari strategi hingga tata kelola komite investasi.

Mitigasi Berbasis Data dan Standar Global

IIF kini menerapkan standar yang sangat ketat. Sejak September 2025, setiap proyek baru maupun tinjauan portofolio tahunan wajib melewati Climate Risk Assessment (CRA). Hal ini dilakukan untuk mendeteksi potensi dampak buruk sebelum komitmen investasi diberikan.

Chief Risk Officer IIF, Lestari Umardin, menjelaskan bahwa integrasi ini bukan sekadar urusan administrasi atau kepatuhan terhadap regulasi semata.

“Integrasi risiko iklim adalah bagian integral dari proses pengambilan keputusan. Melalui CRA, kami bisa mengidentifikasi dan memitigasi risiko fisik maupun transisi sejak awal. Tujuannya agar seluruh proyek yang kami biayai benar-benar siap menghadapi skenario masa depan,” ungkap Lestari.

Transparansi Menuju Tahun 2028

Meskipun kewajiban pelaporan resmi baru akan diberlakukan pada tahun 2028, IIF memilih untuk menjadi pionir dalam transparansi. Saat ini, IIF telah mulai mengungkapkan data emisi Scope 1, 2, dan 3 yang telah diverifikasi oleh Carbon Trust, sebuah lembaga konsultan iklim berskala global.

Tak hanya untuk internal, kapabilitas ini juga didistribusikan melalui layanan ESG Advisory kepada para klien. Hal ini diharapkan mampu mendorong terciptanya ekosistem infrastruktur Indonesia yang lebih hijau dan sesuai dengan standar internasional.

Melalui langkah proaktif ini, IIF tidak hanya mengamankan portofolio bisnisnya, tetapi juga menunjukkan kepemimpinan dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan fisik dan pelestarian lingkungan bagi generasi mendatang.

Previous article
Pokmas Garda Terdepan Wujudkan Keberhasilan Pembangunan di Kelurahan. Aliansiberita.id// Kutisari – Wali Kota Surabaya Erik Cahyadi mengeluarkan Perwali Penguatan Kelompok Masyarakat (Pokmas) dalam Mendukung Program Pembangunan di tiap Kelurahan khususnya Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Pertemuan pembahasan tentang Pokmas oleh Junaidi sebagai Ketua LPMK Keluran Kutisari, Pertemuan dilaksanakan di Kantor balai RW 5 Kutisari Kecamatan Tenggilis Mejoyo kota. Minggu (26/4/2026) 20.00 wib. Gerak cepat pelaksanaan program yang konstruktif ini pun mendapat apresiasi oleh para ketua RW yang Hadir, Kutisari akan melibatkan semua Ketua RW yang ada di kutisari guna membawa kemajuan ke arah yang lebih baik. “Pokmas adalah elemen penting, garda terdepan dalam mewujudkan keberhasilan pelaksanaan program-program pembangunan,” ujarnya. Menurutnya, pokmas tidak hanya menjadi perwakilan berbagai unsur masyarakat, tetapi juga berperan sebagai jembatan harmoni yang menyatukan aspirasi dan semangat kebersamaan demi kemajuan bersama. “Dengan dukungan pokmas yang solid, setiap program yang dirancang dapat lebih tepat sasaran dan memberikan manfaat nyata bagi warga,” imbuh sumari Oleh karena itu, orang nomor satu di jajaran Pemkot kota Surabaya itu menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mewujudkan Kota Surabaya yang lebih maju. “Dalam upaya menghadirkan perubahan yang signifikan, saya telah merumuskan konsep ‘Melanjutkan Mbois (mandiri, berbudaya, optimis, indah, sejahtera) dan Berkelas (berkelanjutan, kolaboratif, efisien, lestari, adaptif, dan sinergis). Konsep ini bukan sekadar slogan, tetapi menjadi arah kebijakan yang akan diimplementasikan secara nyata melalui empat misi utama, lima program unggulan, serta dasa bakti sebagai langkah strategis untuk membangun Kota Surabaya yang lebih progresif, berdaya saing dan inovatif. semua itu sebagai upaya untuk dapat menjalankan dan mewujudkan visi dan misi yang dihadirkan. Tentunya dalam hal ini sangat membutuhkan kerjasama dan kolaborasi dari seluruh komponen masyarakat, termasuk pokmas di Kelurahan Kutisari,Oleh karena itu saya berharap Pokmas Kelurahan Kutisari dapat semakin memperkuat perannya sebagai penggerak utama masyarakat dalam mendukung berbagai program pembangunan. Pokmas diharapkan mampu berperan sebagai katalis yang mendekatkan kebijakan pemerintah dengan kebutuhan riil masyarakat kelurahan Kutisari,” harap Junaidi Dengan semangat kolaborasi yang tinggi, pokmas dapat menjadi jembatan penghubung yang memastikan aspirasi masyarakat tersalurkan dengan baik dan program-program pemerintah berjalan dengan optimal. Selain itu, pihaknya juga mendorong pokmas untuk terus meningkatkan kapasitas dan inovasi dalam menjalankan tugasnya. Hal ini meliputi pengelolaan program pembangunan berbasis masyarakat, penyelesaian masalah lokal secara kreatif, dan penggalangan potensi sumber daya yang ada. Tidak kalah penting, Abah Santoso berharap pokmas mampu menjadi agen perubahan yang menciptakan solusi yang berkelanjutan dan sesuai dengan visi ‘Menuju Kutisari Berkelas’. “Mari kita wujudkan Kutisari sebagai kelurahan yang tidak hanya maju secara infrastruktur, tetapi juga membangun harmoni sosial, keberlanjutan lingkungan, dan kesejahteraan ekonomi bagi semua lapisan masyarakat. Melalui gotong royong dan semangat kebersamaan, kita dapat menjadikan Kutisari kebanggaan kita semua,” pungkasnya. Penulis : Lastomo

Related Articles

Komentar Anda

IKUTI KAMI

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles