MINAB – Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali mencapai titik didih yang mengerikan. Sebuah sekolah dasar khusus perempuan di Kota Minab, Iran Selatan, hancur lebur akibat serangan udara yang dilancarkan oleh militer Israel dan Amerika Serikat. Peristiwa tragis ini dilaporkan merenggut nyawa sedikitnya 148 siswi yang tengah belajar di dalam kelas.
Berdasarkan laporan kantor berita Tasnim, serangan yang terjadi pada Sabtu (28/2/2026) waktu setempat itu tidak hanya mengakibatkan korban jiwa dalam jumlah besar, tetapi juga menyebabkan 95 orang lainnya luka-luka.
Tim penyelamat hingga kini masih terus menyisir puing-puing bangunan sekolah guna mencari kemungkinan adanya penyintas.
Dalih Operasi Pre-emptif Israel dan Dukungan AS
Israel berdalih bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari operasi “pre-emptif” atau pencegahan yang menargetkan fasilitas militer dan nuklir Iran. Langkah ini diambil guna menetralisir ancaman yang dianggap membahayakan kedaulatan mereka.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengonfirmasi keterlibatan Washington dalam operasi gabungan ini.
Trump menyebut kegagalan diplomasi nuklir menjadi pemicu utama kembalinya aksi pengeboman terhadap wilayah Republik Islam tersebut.
Reaksi Keras Teheran dan Serangan Balasan
Tragedi di Minab memicu kemarahan besar di Teheran. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi mengecam keras pengeboman fasilitas pendidikan yang dilakukan di siang bolong saat sekolah sedang penuh dengan murid.
“Tindakan biadab ini menambah lembaran hitam kejahatan para agresor yang tidak akan pernah terhapus dari sejarah bangsa kami,” tegas Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, seperti dikutip dari rt.com, Minggu (1/3/2026).
Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) langsung meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone. Laporan menyebutkan bahwa Iran menargetkan sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah, termasuk pangkalan di Bahrain, Qatar, Kuwait, UEA, Yordania, hingga Arab Saudi. Sementara itu, sekitar 35 rudal dilaporkan meluncur ke arah wilayah Israel.
Dunia di Ambang Perang Terbuka
Insiden ini menandai kampanye militer besar kedua dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, setelah konflik serupa meletus pada Juni 2025.
Kementerian Luar Negeri Iran kini mendesak negara-negara anggota PBB untuk mengutuk keras pelanggaran nyata terhadap Piagam PBB tersebut.
Dengan jumlah korban anak-anak yang begitu besar, kekhawatiran akan terjadinya perang terbuka yang meluas di Timur Tengah semakin nyata. Iran telah bersumpah akan memberikan balasan yang “tegas dan berkepanjangan” atas serangan ini.



